TARAKAN - Pelaksanaan hari raya Nyepi dan Idul Fitri yang berlangsung nyaris bersamaan. Menimbulkan perhatian besar masyarakat. Mengingat budaya perayaan yang berbeda. Sehingga hal tersebut sempat menjadi perbincangan. Kendati demikian, di sisi lain hal tersebut menjadi ujian nyata bagi praktik toleransi antarumat beragama, terutama dalam pengaturan aktivitas ibadah yang berpotensi saling bersinggungan.
Saat dikonfirmasi, Sekretaris Umum Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Tarakan, Syamsi Sarman mengatakan, perbedaan penetapan waktu antara pemerintah dan Muhammadiyah membuat situasi semakin sensitif, khususnya karena Nyepi jatuh berdekatan dengan malam takbiran.
"Kondisi paling dekat terjadi antara Nyepi yang jatuh pada Kamis dan Idulfitri versi Muhammadiyah pada Jumat. Kalau pemerintah Sabtu, itu masih agak jauh. Tapi yang paling dekat ini Muhammadiyah, Kamis Nyepi, malam Jumat sudah takbiran,” ujarnya, Kamis (19/3).
Menurutnya, pengalaman di Bali telah menjadi rujukan dalam menyikapi kondisi tersebut. Di sana, telah disepakati bahwa tidak ada takbiran keliling saat bertepatan dengan Nyepi. Penggunaan pengeras suara juga diatur agar tidak mengganggu umat Hindu yang sedang menjalankan Catur Brata Penyepian.
“Takbiran tetap ada, tapi dilakukan di masjid masing-masing, tidak keluar. Pengeras suara hanya di dalam masjid, supaya untuk jamaah saja,” jelasnya.
Untuk di Tarakan, ia menilai dampaknya tidak terlalu besar karena jumlah umat Hindu relatif kecil, diperkirakan hanya sekitar 0,7 persen dari total penduduk. Selain itu, pusat kegiatan ibadah umat Hindu juga terpusat di satu lokasi.
Meski demikian, FKUB tetap akan mengedepankan langkah antisipatif dengan mengimbau masjid terdekat agar menyesuaikan penggunaan pengeras suara, khususnya yang berada di sekitar lokasi pura. “Di Pasir Putih, di pura. Jumlahnya juga tidak sampai 50 orang. Jadi relatif terkonsentrasi. Ada surau dan masjid di dekat situ, itu akan kita kondisikan agar tidak menggunakan suara luar. Karena pura itu terbuka, suara dari masjid pasti sangat terdengar,” jelasnya.
Ia menambahkan, umat Hindu menjalankan ibadah Nyepi selama satu hari penuh, mulai pukul 06.00 hingga 18.00, dengan aktivitas yang sangat terbatas. Dalam periode tersebut, mereka menjalani tapa atau semedi, tidak melakukan aktivitas, termasuk tidak makan, minum, maupun berkomunikasi.
“Mereka benar-benar fokus ibadah, tidak boleh aktivitas apa-apa. Bahkan komunikasi juga dibatasi, itu bagian dari ibadah mereka,” katanya.
Karena itu, bentuk toleransi dari umat lain juga diwujudkan dengan tidak melakukan kunjungan atau aktivitas yang berpotensi mengganggu selama Nyepi berlangsung. Syamsi menegaskan, meskipun skala umat Hindu di Tarakan kecil, semangat menjaga kerukunan tetap menjadi prioritas bersama.
“Kita yang toleransi juga harus menyesuaikan, tidak berkunjung dulu. Besoknya baru bisa saling silaturahmi lagi. Insyaallah kita jaga toleransi. Ini bukan soal besar kecil jumlah, tapi bagaimana kita saling menghormati,” tutupnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT