TARAKAN – Antrean panjang kendaraan, khususnya truk, di sejumlah lembaga penyalur BBM subsidi di Tarakan dan Bulungan kembali menjadi sorotan DPRD Kalimantan Utara. Kondisi tersebut dinilai masih sering terjadi dan memicu keluhan dari masyarakat maupun para sopir angkutan barang.
Menanggapi hal tersebut, Sales Branch Manager (SBM) Kaltimut V Fuel PT Pertamina, Muhammad Naufal Atiyah menjelaskan, kondisi tersebut berkaitan dengan mekanisme pembelian Bio Solar bersubsidi yang menggunakan Surat Rekomendasi (SR).
Menurutnya, alokasi Bio Solar bersubsidi yang diberikan setiap bulan terkadang tidak dapat mencukupi hingga akhir periode karena keterbatasan kapasitas penampungan. Akibatnya, ketika alokasi sudah habis menjelang akhir bulan, pembelian baru bisa dilakukan setelah SR diterbitkan kembali pada awal bulan berikutnya.
“Dari alokasi yang ada dalam sebulan, penampungan tidak bisa menampung sampai 30 hari. Sehingga ketika alokasi sudah habis di akhir bulan, SR baru terbit lagi di awal bulan berikutnya,” jelas Naufal, Kamis (5/3).
Kondisi tersebut membuat sejumlah sopir truk memilih datang lebih awal dan mengantre bahkan sejak malam hari. Hal itu karena mereka telah memiliki jadwal bongkar muatan pada pagi hari berikutnya.
“Antrean sudah terjadi sejak malam sebelumnya karena mereka sudah punya jadwal bongkar pagi. Jadi mereka menunggu lebih awal,” katanya.
Ia menambahkan, pihaknya telah berkoordinasi dengan pihak SPBU agar pengaturan antrean dapat dilakukan dengan lebih baik untuk menghindari penumpukan kendaraan. Namun penjelasan tersebut sempat mendapat tanggapan dari Yancong yang menyebut antrean tidak hanya terjadi sesekali, tetapi hampir setiap hari. Ia menilai persoalan tersebut tidak bisa semata-mata dikaitkan dengan alokasi bulanan.
Naufal mengakui bahwa masih diperlukan koordinasi yang lebih baik antara berbagai pihak terkait, termasuk pengelola SPBU dan lembaga penyalur lainnya. Menurutnya, di wilayah Bulungan antrean biasanya terjadi pada pagi hari bertepatan dengan jam operasional SPBU. Untuk mengatasi hal itu, pihaknya telah berdiskusi dengan mitra penyalur untuk membagi waktu penjualan Bio Solar. “Solusinya kami pecah jam penjualan bio solar agar tidak terjadi antrean di satu tempat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pengaturan jam penjualan Bio Solar di Bulungan saat ini sedang dicoba diterapkan pada empat SPBU reguler yang memang menjual BBM jenis tersebut. “Nanti akan kami atur ulang lagi. Karena kalau tidak dibuka bersamaan, antrean bisa menumpuk di satu SPBU saja,” katanya.
Ke depan, Pertamina juga akan melakukan koordinasi dengan Hiswana Migas serta para pengusaha SPBU untuk memastikan distribusi Bio Solar dapat berjalan lebih merata. “Kami akan maksimal koordinasi dengan Hiswana Migas dan juga dengan empat pengusaha SPBU tersebut,” jelasnya.
Adapun untuk kasus antrean panjang di Tarakan, Naufal menjelaskan bahwa sebagian besar SPBU reguler di kota tersebut memang tidak menjual Bio Solar bersubsidi. Penjualan BBM jenis ini lebih banyak diarahkan ke lembaga penyalur non-reguler.
Hal inilah yang menyebabkan penumpukan kendaraan di titik-titik tertentu ketika pasokan tersedia atau ketika alokasi baru mulai didistribusikan. “Di Tarakan, SPBU reguler memang tidak menjual Bio Solar. Jadi penjualannya diarahkan ke non-reguler. Kemarin sempat terjadi antrean karena alokasi sudah habis, sementara beberapa truk sudah punya jadwal bongkar pagi,” paparnya.
Ia menambahkan, pihaknya juga akan kembali berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mencari solusi terbaik, termasuk terkait pengaturan kendaraan yang mengantre di sekitar SPBU. “Karena di beberapa wilayah SPBU itu tidak memungkinkan kendaraan menginap atau menunggu lama. Jadi ke depan akan kami koordinasikan lagi,” ucapnya.
Sebelumnya Anggota DPRD Kaltara, Yancong menyampaikan yang dikeluhkan di lapangan saat pertemuan dengan manajemen PT Pertamina di Fuel Terminal Tarakan. Dalam pertemuan itu, ia mempertanyakan penyebab antrean panjang kendaraan di APMS Juata Kerikil, Tarakan, serta antrean truk yang juga dilaporkan terjadi di wilayah Bulungan.
Yancong mengatakan, laporan yang diterimanya menyebutkan antrean kendaraan di APMS Juata Kerikil masih sering terjadi. Bahkan, antrean truk di Bulungan juga disebut kerap mengular, terutama pada waktu-waktu tertentu. “Laporan yang kami terima masih terjadi antrean panjang kendaraan di APMS di Tarakan, seperti di Juata Kerikil. Begitu juga antrean truk yang mengular di Bulungan,” ujarnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT