Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Kebutuhan Bahan MBG Stabil, Dapur MBG di Tarakan Harapkan Suplai dari Petani dan Nelayan Lokal

Zakaria RT • Kamis, 5 Maret 2026 | 05:04 WIB

 

Ketua SPPG Tarakan Utara Jackson Situmorang
Ketua SPPG Tarakan Utara Jackson Situmorang

TARAKAN – Meski sudah berjalan hampir setahun, namun pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Tarakan memiliki persoalan yang cukup kompleks. Sehingga hal ini menimbulkan keluhan setiap harinya. Hal tersebut tidak terlepas banyaknya tantangan yang harus dihadapi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) masih bergulat dengan persoalan klasik, yakni ketersediaan bahan baku dan kemasan standar.

“Kami membeli dalam jumlah besar setiap hari. Wajar kalau pasar lokal kaget dan stok cepat menipis. Ini bukan semata-mata soal manajemen dapur, tapi memang kapasitas pasokan yang terbatas,” tutur Ketua Yayasan Hidup Berbagi Kasih yang mewakili Kepala SPPG Juata Kerikil, Jakson Situmorang.

Dirinya menjelaskan, situasi serupa juga terjadi pada bahan pangan tertentu seperti telur, ayam, sayur mayur, dan buah. Saat permintaan meningkat secara bersamaan dari puluhan dapur, pedagang di pasar tradisional kesulitan memenuhi kebutuhan dalam waktu cepat.

“Kami berharap ada dukungan lebih lanjut dari pemerintah daerah, baik dalam hal stabilisasi pasokan bahan baku maupun fasilitasi distribusi kemasan standar. Kerja sama dengan petani, peternak, dan nelayan lokal dinilai menjadi solusi jangka panjang agar kebutuhan program dapat terpenuhi secara berkelanjutan," katanya.

Dirinya berharap ada sinergi dengan petani dan nelayan lokal, agar pasokan bahan pembuatan MBG bisa lebih terjamin dan harga lebih stabil. “Program ini kan untuk kepentingan bersama, jadi memang perlu dukungan semua pihak,” ujarnya.

Selain kebutuhan bahan pembuatan MBG, persoalan kemasan juga menjadi tantangan tersendiri. Standar kemasan mika atau sistem vakum yang dianjurkan tidak selalu tersedia dalam jumlah cukup di Tarakan. Akibatnya, beberapa dapur terpaksa menggunakan kantong plastik sebagai alternatif sementara. Menurut Jakson, kondisi ini terjadi karena permintaan kemasan meningkat tajam seiring berjalannya program MBG. Ketika pembelian dilakukan dalam jumlah besar, stok di toko atau distributor lokal cepat habis, bahkan harga dapat naik dalam waktu singkat.

“Kami membeli dalam jumlah besar setiap hari. Wajar kalau pasar lokal kaget dan stok cepat menipis. Ini bukan semata-mata soal manajemen dapur, tapi memang kapasitas pasokan yang terbatas,” pungkasnya. (zac/jnr)

 

Editor : Januriansyah RT
#tarakan #SPPG #Mbg #Makan Bergizi Gratis