Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Kenaikan Harga Emas dan Cabai Ikut Jadi Penyumbang Inflasi di Kota Tarakan

Eliazar Simon • Rabu, 4 Maret 2026 | 15:41 WIB

PENYUMBANG : Kenaikan harga emas perhiasan menjadi penyumbang inflasi terbesar di bulan Februari.
PENYUMBANG : Kenaikan harga emas perhiasan menjadi penyumbang inflasi terbesar di bulan Februari.

TARAKAN – Badan Pusat Statistik (BPS) Tarakan mencatatkan inflasi tahunan pada Februari 2026 tercatat menembus 5 persen, melampaui kisaran target nasional 2,5 persen ±1 persen. Kenaikan ini berpotensi menekan daya beli masyarakat di tengah meningkatnya kebutuhan konsumsi. Data resmi BPS Kota Tarakan mencatat inflasi bulanan (month to month) sebesar 0,58 persen, sementara inflasi tahun kalender (year to date) 0,44 persen.

Kepala BPS Tarakan, Umar Riyadi, mengungkapkan kenaikan harga emas perhiasan, cabai rawit, dan daging ayam ras menjadi penyumbang utama inflasi Februari.

Selain itu, ikan bawal, telur ayam ras, tomat, kangkung, kacang panjang, angkutan udara, serta kue kering berminyak ikut memberikan andil. “Kalau bahan pokok seperti cabai, ayam, dan telur naik bersamaan menjelang Ramadan, tentu dampaknya langsung dirasakan masyarakat,” ujarnya, Rabu (4/3).

Dari sisi kelompok pengeluaran, Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya menyumbang inflasi terbesar 0,29 persen. Disusul Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau 0,27 persen. Artinya, tekanan tidak hanya datang dari sektor pangan, tetapi juga kebutuhan nonpangan.

Meski begitu, sejumlah komoditas tercatat menahan laju inflasi. Ikan layang/benggol, bawang merah, ikan bandeng, sawi hijau, bensin, sabun detergen bubuk, hingga buku pelajaran SD menyumbang deflasi.

Secara perbandingan, inflasi tahunan Tarakan (5,00 persen) lebih tinggi dari Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) yang berada di angka 4,75 persen, serta sedikit di atas nasional 4,76 persen.

Kondisi ini dinilai menjadi sinyal penting bagi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) untuk memperkuat pengawasan distribusi dan memastikan pasokan bahan pokok tetap lancar. Stabilitas harga menjelang hari besar keagamaan menjadi faktor krusial agar konsumsi rumah tangga—sebagai penopang utama ekonomi daerah—tetap terjaga.

“Stabilitas harga adalah kunci menjaga daya beli. Kalau harga terkendali, ekonomi lokal tetap bergerak,” tegas Umar. (zar/jnr)

Editor : Januriansyah RT
#tarakan #cabai #inflasi #emas #bps