TARAKAN – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi potensi hujan masih akan terjadi di Kota Tarakan dan sebagian besar wilayah Kalimantan Utara (Kaltara) dalam tiga hari ke depan. Intensitas hujan diperkirakan bervariasi, mulai dari ringan hingga lebat, dengan pola yang tidak merata.
Forecaster BMKG Tarakan Hermansyah menjelaskan, peningkatan potensi hujan dalam beberapa hari terakhir dipengaruhi oleh dinamika atmosfer yang cukup aktif di wilayah Kaltara.
“Kalau melihat kondisi cuaca beberapa hari terakhir, memang potensi atau pertumbuhan awal hujan di wilayah Kalimantan meningkat. Salah satu penyebab dominannya adalah faktor dinamika atmosfer,” jelasnya, Jumat (27/2).
Ia menerangkan, saat ini terpantau adanya gelombang ekuator, khususnya gelombang Rossby ekuator (gelombang rusuk ekuator), yang aktif di wilayah Kaltara. Selain itu, terdapat pula aktivitas gelombang berfrekuensi rendah (low frequency) yang turut mendukung pertumbuhan awan hujan.
“Gelombang ekuator ini terpantau aktif di Kaltara dan menyebabkan peningkatan pertumbuhan awan hujan. Ditambah lagi ada gelombang frekuensi rendah yang juga aktif di wilayah ini,” ujarnya.
Faktor lain yang berkontribusi adalah peningkatan suhu muka laut di perairan sekitar Kalimantan. Suhu laut yang relatif hangat memicu penguapan lebih tinggi sehingga suplai uap air ke atmosfer meningkat.
“Kalau suhu muka laut tinggi, penguapan juga meningkat. Itu menjadi salah satu pemicu terbentuknya awan hujan. Jadi indikator kita bukan hanya gelombang atmosfer, tapi juga suhu muka laut,” terangnya.
Untuk tiga hari ke depan, potensi hujan masih dapat terjadi baik di Tarakan maupun wilayah lain di Kaltara Namun, sebarannya tidak merata. “Bisa saja di satu wilayah hujan, tapi wilayah lain tidak. Intensitasnya pun bervariasi, bisa ringan hingga lebat. Potensi hujan sedang hingga lebat masih dapat terjadi, tetapi tidak merata,” jelas Hermansyah.
Dari sisi waktu kejadian, pola hujan di Kalimantan Utara cenderung terjadi pada malam hingga menjelang pagi hari, khususnya untuk wilayah bagian timur seperti Tarakan, Nunukan, dan Bulungan. Sedangkan wilayah barat seperti Malinau umumnya berpotensi hujan pada sore hingga menjelang malam. “Untuk Tarakan sendiri cenderung malam sampai dini hari. Tapi polanya bisa berselang-seling dan tidak selalu sama setiap hari,” tambahnya.
Terkait apakah kondisi ini dapat dikategorikan sebagai cuaca buruk atau ekstrem, Hermansyah menjelaskan bahwa istilah cuaca ekstrem biasanya digunakan jika fenomena tersebut berdampak signifikan terhadap lingkungan maupun aktivitas masyarakat.
“Untuk saat ini lebih kepada peningkatan potensi hujan. Belum masuk kategori cuaca ekstrem. Tapi tetap perlu diwaspadai, terutama jika hujan dengan intensitas sedang hingga lebat terjadi dalam durasi cukup lama,” katanya.
Sementara itu, untuk kondisi perairan, tinggi gelombang dalam tiga hari ke depan diperkirakan berada pada kategori rendah hingga sedang. Artinya, aktivitas pelayaran masih relatif aman. “Secara umum gelombang masih kategori rendah sampai sedang. Masih memungkinkan untuk kegiatan pelayaran,” jelasnya.
Namun, ia mengingatkan potensi peningkatan gelombang secara tiba-tiba tetap ada, terutama saat terjadi hujan lebat yang disertai angin kencang pada malam hingga dini hari. “Biasanya saat ada hujan dan angin kencang, tinggi gelombang bisa meningkat sementara. Itu yang perlu diwaspadai oleh nelayan dan pengguna jasa transportasi laut,” pungkasnya. (zar/jnr)
Editor : Januriansyah RT