Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Sistem Tata Niaga Rumput Laut Dinilai Panjang, Ini Skema yang Didorong Dinas Perikanan Tarakan

Zakaria RT • Minggu, 22 Februari 2026 | 16:54 WIB

 

KERING : Ilustrasi petani memegang hasil panen rumput lautnya di Pantai Amal Tarakan.
KERING : Ilustrasi petani memegang hasil panen rumput lautnya di Pantai Amal Tarakan.

TARAKAN - Meski sempat mengalami kejayaan pada satu dekade lalu, namun saat ini kondisi petani rumput laut sulit kembali naik kelas lantaran sistem penjualan yang tidak berpihak. Alhasil, hingga saat ini harga rumput laut stagnan dan sulit kembali meroket.

Selain sistem tata niaga yang dinilai melalui banyak tangan, rendahnya rumput laut juga tidak terlepas dari kualitas rumput laut petani di Tarakan yang terus menurun. Alhasil petani di Tarakan sulit bersaing dengan petani daerah lain.

Hal itulah yang diungkapkan Kabid Budidaya Perikanan, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan pada Dinas Perikanan (DPK) Tarakan, Husna Ersant Dirgantar, di mana ia menerangkan panjangnya rantai tata niaga rumput laut di Tarakan membuat posisi tawar pembudidaya tetap lemah. Skema distribusi berlapis dari peluncur, pengumpul kecil hingga pengumpul besar menjadi salah satu penyebab harga di tingkat petani sulit terdongkrak, terutama ketika kebutuhan perputaran modal mendesak.

"Sebenarnya pengaturan tata niaga produk hasil perikanan mengatur soal mutu dan standar kualitas. Tapj praktiknya, pembudidaya rumput laut di lapangan masih bergantung pada pola lama yang membuat mereka tidak leluasa menjual langsung ke pembeli besar. Di sisi lain tidak jarang mereka terjarat sistem utang modal, jadi mereka tidak bisa menjual ke yang lain," ujarnya, Minggu (22/2).

"Dalam sistem tata, ada peluncur satu, peluncur dua, pengumpul kecil, pengumpul besar. Ini yang sebetulnya perlu kita benahi. Idealnya pembudidaya bisa langsung ke pengumpul besar atau pabrik," sambungnya.

Diungkapkannya, kondisi ini tidak jauh berbeda dengan tata niaga udang. Secara mekanisme, supplier bisa saja langsung memasok ke cold storage tanpa melalui penampung. Namun karena sebagian pembudidaya memiliki pinjaman modal kepada pengumpul tertentu, maka hasil panen otomatis harus dijual ke pihak tersebut.

“Kalau mereka tidak terikat pinjaman, mereka bisa langsung ke pengumpul besar. Harga pasti lebih baik. Sebenarnya upaya memotong rantai distribusi mulai dijajaki melalui Perumda Agribisnis. Beberapa waktu lalu, rumput laut dari Tarakan telah dikirim melalui Perumda ke PT BLG di Pinrang, Sulawesi Selatan. Pengiriman bahkan sudah dilakukan dalam beberapa kontainer dan disebut memberikan harga yang cukup baik bagi pembudidaya," katanya.

Ia mengakui, banyak pembudidaya menjual dalam kondisi belum kering sempurna karena membutuhkan perputaran uang cepat. Proses pengeringan tambahan dua hingga tiga hari dianggap memperlambat arus kas, sehingga mereka memilih menjual lebih awal meski harga lebih rendah.

"Strategi petani juga sebenarnya merugikan petani. Ini agak sulit di suatu sisi mereka ingin mahal di suatu sisi mereka tidak sabar menunggu beberapa hari," pungkasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
#tarakan #rumput laut #budidaya rumput laut