TARAKAN – Proses evakuasi dan pemulangan jenazah Captain Hendrik Ludwig, pilot pesawat pengangkut BBM milik Pelita Air yang jatuh di Krayan, Kabupaten Nunukan, berlangsung penuh tantangan. Cuaca buruk dan medan ekstrem menjadi hambatan utama tim di lapangan, Kamis (19/2).
Komandan Lanud Anang Busra, Andreas A. Dhewo mengungkapkan, rencana penerbangan penjemputan jenazah yang semula dijadwalkan pukul 08.30 WITA terpaksa ditunda karena jarak pandang di lokasi sangat terbatas. “Visibility sempat hanya 500 meter, dengan low cloud dan base cloud sekitar 1.000 feet. Demi keselamatan, keberangkatan kami tunda,” jelasnya.
Penerbangan baru dapat dilakukan setelah kondisi cuaca berangsur membaik sekitar pukul 09.00–10.00 WITA, saat jarak pandang meningkat hingga 4.500 meter.
Di lokasi jatuhnya pesawat di wilayah Krayan, proses evakuasi dilakukan oleh personel Pos AU bersama TNI AD yang menjadi tim terdekat dengan titik kejadian.
Komandan Pos AU Krayan Lanud Anang Busra, Letda Lek Paisal menuturkan, tim harus menghadapi medan terjal berupa lereng gunung yang licin, berbukit, serta tertutup pepohonan besar.
“Ketika kami tiba bersama masyarakat dan pihak bandara Long Bawan, kondisi pesawat masih terbakar. Pilot langsung bisa diidentifikasi karena hanya satu orang di kokpit,” ujarnya.
Setelah memastikan area aman dari potensi bahaya, tim gabungan mengevakuasi jenazah dari badan pesawat. Proses pemindahan dilakukan secara manual dengan tandu sejauh kurang lebih satu jam perjalanan menuju jalan terdekat. “Medannya tanah, belum diaspal, licin, dan curam. Ini sangat menguras tenaga,” katanya.
Dari titik tersebut, jenazah kemudian dibawa menggunakan ambulans menuju RS Pratama Long Bawan. Meski dihadapkan dengan kondisi alam yang berat, proses evakuasi berjalan lancar berkat kerja sama erat antara aparat dan masyarakat setempat. “Masyarakat membantu dengan penuh dedikasi. Semua peralatan seperti tandu dan komunikasi kami siapkan agar proses berjalan aman,” tambahnya.
Selain mengevakuasi korban, Pos AU Krayan juga melakukan sterilisasi lokasi dari potensi bahaya serta membantu koordinasi dengan tim SAR dan aparat terkait. “Fokus kami memastikan evakuasi berjalan aman di tengah cuaca yang cepat berubah dan medan yang sangat sulit,” pungkasnya. (zar/jnr)
Editor : Januriansyah RT