Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

100 Ton Sampah Masuk Tiap Hari, Bikin TPA Juata Kerikil Tarakan Cepat Penuh

Zakaria RT • Kamis, 19 Februari 2026 | 16:32 WIB
CEPAT PENUH: Kondisi TPA Juata Kerikil yang menerima 100 ton sampah setiap harinya.
CEPAT PENUH: Kondisi TPA Juata Kerikil yang menerima 100 ton sampah setiap harinya.

TARAKAN - Laju produksi sampah yang tak terkendali membuat daya tampung Tempat Pembuangan Akhir kembali diuji. Sel awal di TPA Juata Kerikil yang baru beberapa bulan difungsikan kini mendekati batas kapasitasnya. Sehingga hal tersebut membuat TPA Juata Kerikil dilaporkan nyaris penuh.

Saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tarakan, Andry Rawung, menjelaskan sejak tahap perencanaan, sel pertama di memang didesain berukuran terbatas. “Sel yang pertama dibangun itu relatif kecil. Memang peruntukannya hanya untuk sekitar enam bulan,” ujarnya, Rabu (18/2).

"Luas sel eksisting hanya sekitar setengah hektare. Dengan desain tersebut, kapasitasnya memang bersifat sementara sembari menunggu pembangunan tahap berikutnya. Namun tingginya volume sampah harian mempercepat kepenuhan. Rata-rata sekitar 100 ton sampah masuk setiap hari ke lokasi tersebut,"ujarnya, Kamis (19/2).

"Volume itu berasal dari sampah rumah tangga, pasar, kawasan komersial, hingga fasilitas umum. “Dengan volume 100 ton per hari, tentu cepat terisi,” sambungnya.

Menurutnya, kondisi ini sebenarnya telah masuk dalam skema perencanaan. Karena itu, tahun ini pemerintah telah menyiapkan anggaran untuk pembangunan sel tambahan seluas kurang lebih satu hektare. Penambahan tersebut diharapkan mampu memperpanjang masa operasional sekaligus mengantisipasi peningkatan volume sampah di masa mendatang.

“Kita sudah anggarkan untuk penambahan sel. Targetnya bisa segera direalisasikan agar operasional tidak terganggu,” jelasnya.

Dikatakannya, dengan total luas kawasan TPA mencapai sekitar 50 hektare, ruang pengembangan masih terbuka lebar. Namun Andry menegaskan, perluasan lahan tidak boleh menjadi satu-satunya solusi. Jika pola pengelolaan tetap bertumpu pada sistem landfill atau buang-timbun, maka persoalan serupa akan terus berulang.

DLH kini mulai mendorong pendekatan yang lebih komprehensif, termasuk pengurangan sampah dari sumbernya serta pengolahan untuk menekan volume residu yang berakhir di TPA. Opsi seperti pemilahan, daur ulang, hingga pengolahan menjadi bahan bakar alternatif sedang dikaji sebagai bagian dari strategi jangka panjang.

“Kita tidak bisa hanya mengandalkan sistem ditumpuk terus. Harus ada inovasi supaya volume yang masuk ke TPA bisa berkurang,” tegasnya.

Ia menambahkan, pengelolaan sampah bukan semata tanggung jawab pemerintah. Partisipasi masyarakat dalam memilah dan mengurangi sampah dari rumah tangga menjadi faktor penting dalam memperpanjang usia TPA. Tanpa perubahan perilaku, perluasan sel hanya akan menjadi solusi sementara.

"Kami berharap pembangunan sel tambahan dapat berjalan paralel dengan program pengurangan sampah. Dengan demikian, TPA Juata Kerikil tidak hanya menjadi lokasi penimbunan, tetapi bagian dari sistem pengelolaan sampah yang lebih modern dan berkelanjutan. Yang jelas, kita terus berpikir bagaimana sampah ini bisa lebih tertangani dan tidak hanya ditumpuk,” pungkasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
#sampah #tarakan #tpa