Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Inflasi Kaltara 0,10 Persen pada Januari, Emas Perhiasan Jadi Pemicu Utama

Eliazar Simon • Rabu, 18 Februari 2026 | 14:32 WIB

 

DIPENGARUHI: Inflasi pada awal tahun ini dipengaruhi kenaikan harga emas perhiasan yang didorong faktor global.
DIPENGARUHI: Inflasi pada awal tahun ini dipengaruhi kenaikan harga emas perhiasan yang didorong faktor global.

TARAKAN – Laju inflasi Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) pada Januari 2026 masih berada dalam kondisi terkendali. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Bank Indonesia, inflasi gabungan tiga kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Kaltara tercatat sebesar 0,10 persen secara bulanan (month to month/mtm), dengan inflasi tahunan mencapai 4,08 persen (year on year/yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara, Hasiando Ginsar Manik menjelaskan, inflasi pada awal tahun ini terutama dipengaruhi kenaikan harga emas perhiasan yang didorong faktor global. “Pergerakan harga emas sejalan dengan ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Federal Reserve serta meningkatnya ketegangan geopolitik global,” ujarnya.

Meski ada tekanan dari komoditas tertentu, secara umum dinamika harga di Kaltara dinilai masih dalam koridor yang terjaga. “Inflasi Januari 2026 di Kalimantan Utara berada pada level yang terkendali. Tekanan harga tidak bersifat luas dan masih dapat diantisipasi melalui penguatan koordinasi pengendalian inflasi daerah,” tambahnya.

Berdasarkan sebaran wilayah IHK, Nunukan menjadi satu-satunya daerah yang mengalami inflasi, yakni sebesar 0,81 persen (mtm). Sementara dua kota lainnya justru mengalami deflasi, masing-masing Tarakan sebesar -0,15 persen (mtm) dan Tanjung Selor sebesar -0,43 persen (mtm).

Kondisi tersebut menunjukkan tekanan harga di Kaltara pada awal tahun tidak merata dan cenderung dipengaruhi faktor spesifik di masing-masing daerah. Dari sisi komoditas, kelompok transportasi menjadi salah satu penahan utama inflasi. Penurunan harga angkutan udara terjadi seiring mobilitas masyarakat yang belum kembali normal setelah periode Natal dan Tahun Baru.

Selain itu, pasokan ikan bandeng yang melimpah di pasaran turut membantu meredam tekanan harga pada kelompok makanan. Harga cabai rawit juga mengalami normalisasi setelah sebelumnya meningkat pada periode hari besar keagamaan nasional (HBKN).

Namun demikian, terdapat beberapa komoditas yang justru mendorong inflasi. Selain emas perhiasan, kenaikan harga ikan layang terjadi akibat faktor cuaca yang kurang mendukung sehingga memengaruhi hasil tangkapan nelayan. Tarif angkutan laut juga mengalami kenaikan seiring berakhirnya kebijakan diskon pada masa Nataru dan kembali ke tarif normal.

Menghadapi periode Ramadan dan Idulfitri, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Kaltara akan memperkuat langkah antisipatif. Upaya yang dilakukan antara lain menjaga ketersediaan pasokan, memastikan kelancaran distribusi, serta mengendalikan ekspektasi inflasi masyarakat agar tetap stabil.

“Kami terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah melalui TPID untuk menjaga stabilitas harga dan memastikan inflasi tetap terkendali, terutama menjelang Ramadan dan Idulfitri yang biasanya diikuti peningkatan permintaan,” tegas Hasiando.

Bank Indonesia juga mengingatkan bahwa faktor global seperti kebijakan suku bunga Amerika Serikat dan dinamika geopolitik masih akan memengaruhi pergerakan harga emas. Selain itu, kondisi cuaca juga menjadi faktor penting yang memengaruhi produksi dan distribusi komoditas pangan di daerah.

Dengan berbagai langkah pengendalian yang terus diperkuat, inflasi Kaltara pada awal tahun optimistis tetap berada dalam rentang sasaran nasional dan mendukung daya beli masyarakat. (zar/jnr)

Editor : Januriansyah RT
#bank indonesia #kaltara #inflasi