TARAKAN – Kota Tarakan kembali diingatkan akan realitas ekologisnya sebagai wilayah pesisir yang sejak awal merupakan habitat alami buaya muara. Hal ini dikuatkan dengan banyaknya temuan buaya di sungai dan embung di Kota Tarakan. Oleh sebab itu, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Alam mengimbau masyarakat agar tidak mendekati air sangat berada di kawasan embung mana pun yang berada di wilayah Tarakan.
Saat dikonfirmasi, Direktur PDAM Tirta Alam, Iwan Setiawan mengatakan, jika semua embung di Kota Tarakan terdeteksi adanya eksistensi buaya. Hal tersebut berdasarkan laporan petugas jaga pada masing-masing embung. Beberapa kasus hilangnya hewan ternak saat mencari makan di sekitar embung diduga menjadi mangsa hewan warisan prasejarah terbesar.
“Sejak sebelum manusia datang, Tarakan ini memang habitatnya buaya. Kondisi geografis Tarakan yang berada di kawasan pesisir, rawa payau, serta dekat dengan muara sungai seperti Bulungan, menjadikan wilayah ini sebagai ekosistem alami buaya muara. Di seluruh lokasi embung PDAM, telah terpasang papan peringatan bertuliskan ‘Dilarang Masuk’ dan ‘Awas Ada Buaya’. Area tersebut secara tegas dinyatakan sebagai zona terbatas, kecuali untuk petugas," ujarnya, (25/1).
“Embung Persemaian, Indulung, Rawasari, Binalatung, Embung Sungai Bengawan dan lainnya itu ada (buaya). Tapi sampai hari ini masih ada saja, warga yang masuk ke area embung, kalau joging tidak masalah tapi?u jangan mendekati air," sambungnya.
Diungkapkannya, terkait adanya kasus penyerapan biluaya di Embung Persemaian, Ia menjelaskan jia jika evakuasi buaya telah dilakukan sebanyak tiga kali, dengan ukuran buaya tergolong besar. Namun, kemunculan buaya tetap berulang. Kendati demikian, ia mengemukakan jika hingga kini, belum pernah dilakukan survei resmi untuk menghitung jumlah buaya di embung-embung tersebut. .
“Sudah ditangkap, tapi muncul lagi. Kita juga tidak tahu buaya-buaya ini datang dari mana. Bisa jadi berpindah lewat jalur air saat malam hari. Embung-embung ini sudah tua dan memang buaya cenderung menyukai habitat seperti ini,” katanya.
Ia menegaskan, jika air di beberapa embung merupakan air limpasan, bukan air konsumsi langsung, sehingga pengurasan tidak menjadi persoalan teknis besar. Sehingga ia mengimbau kembali, agar masyarakat tidak memasuki area embung PDAM.
“Selain risiko diterkam buaya, bahaya lain juga mengintai, seperti tenggelam, ular, dan satwa liar lainnya. Aktivitas memancing pun disebut sulit dikendalikan karena kerap dilakukan secara sembunyi-sembunyi," urainya.
“Kalau pemancing itu susah kalau mau dilarang. Kami pergi sebentar, nanti ada lagi. Kami khawatir saat mereka asik mancing yang disambar bukan umpannya tapi orangnya. Ini kembali ke kesadaran masyarakat, masing-masing saja," pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT