Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Kasus HIV di Tarakan Tembus 1.010 Orang, Kelompok LSL Masih Dominan

Zakaria RT • Kamis, 22 Januari 2026 | 20:08 WIB
MEMAPARKAN: Dinkes Tarakan memaparkan data HIV/AIDS di Tarakan.
MEMAPARKAN: Dinkes Tarakan memaparkan data HIV/AIDS di Tarakan.

TARAKAN – Penyebaran kasus HIV/AIDS di Kota Tarakan terus menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Hingga tahun 2025, tercatat sebanyak 1.010 orang di Tarakan terkonfirmasi positif HIV sejak kasus pertama ditemukan pada 1997. Data tersebut terungkap dalam kunjungan kerja Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) ke Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tarakan, Kamis (22/1/2026).

Saat dikonfirmasi, Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes Tarakan, Rinny Faulina, SKM., M.Kes, menyebut, meskipun jumlah temuan kasus baru pada 2025 mengalami penurunan. Namun demikian, ia menegaskan bukan berarti kondisi saat ini bisa dianggap aman.

“Kasus HIV ini seperti fenomena gunung es. Yang terlihat hanya yang berhasil kami jangkau, sementara yang belum terdeteksi kemungkinan masih jauh lebih banyak. Menurun belum tentu aman. Sepanjang 2025, sebanyak 13.617 orang menjalani pemeriksaan HIV. Dari jumlah tersebut, ditemukan 103 kasus reaktif, menurun dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 118 kasus. Dari total kasus baru 2025, 9 orang dilaporkan meninggal dunia," ujarnya, Kamis (22/1).

"Persoalannya dalam mendeteksi HIV, setiap orang punya hak untuk menolak di tes. Jadi, kondisi bisa membuat penderita terhindar dari pemeriksaan. Kecuali mereka sudah sakit dan memeriksakan kesehatan di faskes itu baru terdeteksi. Selagi dia tidak berobat dan masih sehat odha akan sulit terditeksi," sambungnya.

Ia menjelaskan, mayoritas penderita berada pada rentang usia 20–39 tahun, namun kasus juga ditemukan pada usia sekolah 14–19 tahun hingga kelompok lanjut usia di atas 60 tahun. Berdasarkan jenis kelamin, penderita HIV di Tarakan didominasi oleh laki-laki.

“Kelompok Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL) masih menjadi penyumbang tertinggi dengan 31 kasus, disusul penderita Tuberkulosis (TB) sebanyak 17 kasus, serta pelanggan pekerja seks sebanyak 10 kasus,” jelasnya.

Diungkapkannya, salah satu tantangan terbesar dalam penanganan HIV di Tarakan adalah stigma sosial. Dari 103 kasus baru di 2025, hanya 72 orang yang rutin menjalani pengobatan Antiretroviral (ARV). Sementara 20 orang lainnya dilaporkan hilang kontak (lost to follow-up).

“Banyak pasien yang belum siap membuka statusnya, bahkan kepada keluarga sendiri. Kami tidak bisa memaksakan karena itu hak pasien, namun edukasi terus kami lakukan melalui konselor,” urainya

"Adapun terkait titik spot saat ini adalah lokasi penyebaran konvensional yang merupakan spot penyebaran seperti tempat hiburan malam (THM), panti pijat, dan hotel. Selain itu, kami juga memberikan perhatian khusus pada tempat kebugaran (gym). Lokasi ini diduga menjadi salah satu titik berkumpulnya komunitas LSL yang masuk dalam kelompok risiko tinggi," pungkasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
#tarakan #hiv/aids #kesehatan #hiv