TARAKAN – Lapas Kelas IIA Tarakan kini memiliki etalase resmi untuk memasarkan hasil karya warga binaan. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kanwil Ditjenpas) Kalimantan Timur, Endang Lintang Hardiman, meresmikan Galeri Giatja Lapas Tarakan dalam kunjungan kerja dan monitoring evaluasi operasional teknis pemasyarakatan, belum lama ini.
Peresmian Galeri Giatja menjadi simbol komitmen pemasyarakatan dalam mendorong pembinaan kemandirian warga binaan agar memiliki keterampilan dan daya saing ekonomi setelah kembali ke masyarakat.
Kasubag Tata Usaha Lapas Tarakan, Slamet Hariyadi, menjelaskan bahwa kehadiran Kanwil Ditjenpas Kaltim tidak hanya sebatas kunjungan seremonial, tetapi juga melakukan peninjauan menyeluruh terhadap layanan dan fasilitas lapas.
“Beliau melakukan monitoring dan evaluasi OPT pemasyarakatan, sekaligus meresmikan Galeri Giatja.
"Secara umum, beliau menilai Lapas Tarakan sudah cukup baik, baik dari sisi pelayanan kepada masyarakat maupun warga binaan. Semua layanan dinilai telah berjalan sesuai SOP,” ujar Slamet, Rabu (21/1).
Menurutnya, Galeri Giatja menjadi wujud nyata keberhasilan program pembinaan kemandirian yang selama ini dijalankan di Lapas Tarakan. Produk yang dihasilkan warga binaan kini memiliki ruang pemasaran tetap dan mudah dijangkau masyarakat.
Selain peresmian galeri, Kanwil Ditjenpas Kaltim juga meninjau sejumlah fasilitas penunjang, mulai dari layanan kunjungan, dapur lapas, fasilitas kesehatan hingga sistem keamanan.
“Dapur Lapas Tarakan mendapat apresiasi khusus karena dinilai memenuhi standar, baik dari sisi kebersihan, fasilitas maupun pelayanan. Beliau juga mengapresiasi kualitas SDM pegawai Lapas Tarakan,” ungkap Slamet.
Sementara itu, Kepala Lapas Kelas IIA Tarakan, Jupri, melalui Kepala Seksi Kegiatan Kerja (Giatja), Andika Abrian, mengatakan Galeri Giatja dirancang sebagai pusat pemasaran produk warga binaan yang selama ini diproduksi melalui program pelatihan kerja.
“Selama ini produk warga binaan kita pasarkan melalui UMKM dan Pasar Batu. Sekarang kita punya galeri sendiri di depan lapas, sehingga pengunjung dan masyarakat yang melintas bisa langsung melihat dan membeli,” jelas Andika.
Galeri Giatja menampilkan beragam hasil karya warga binaan, mulai dari produk makanan ringan seperti amplang udang, kerajinan tangan (handicraft), lukisan, hingga hasil keterampilan pertukangan seperti pembuatan pagar dan kursi.
“Semua hasil karya warga binaan ada di galeri ini. Galeri dibangun sejak tahun lalu dengan memanfaatkan anggaran pelatihan, yang kami arahkan untuk pembangunan galeri agar hasil pelatihan benar-benar bernilai ekonomis,” tambahnya.
Dari sisi operasional, galeri sementara dijaga oleh peserta magang dari Kementerian Ketenagakerjaan yang ditempatkan di Seksi Giatja, dengan dukungan warga binaan dalam proses produksi.
Andika menuturkan, produk warga binaan memiliki kualitas yang mampu bersaing dengan produk sejenis di pasaran. Harga yang ditawarkan pun disesuaikan dengan harga pasar agar tetap kompetitif.
“Untuk amplang udang, kami jual Rp10 ribu per bungkus, sama dengan harga di luar. Bahkan produk kita cukup diminati dan laris di Pasar Batu, serta sudah masuk ke beberapa kafe,” katanya.
Rata-rata produksi amplang udang mencapai satu kilogram per hari atau sekitar 40 bungkus, dengan bahan baku yang relatif mudah diperoleh. Produksi disesuaikan dengan permintaan pasar.
"Galeri ini tidak hanya menjadi sarana pemasaran, tetapi juga wadah pembelajaran kewirausahaan, sehingga warga binaan memiliki bekal keterampilan, mental usaha, dan kepercayaan diri ketika kembali ke tengah masyarakat," pungkasnya. (zar/jnr)
Editor : Januriansyah RT