TARAKAN – Laju inflasi Kalimantan Utara (Kaltara) sepanjang 2025 berhasil dijaga dalam koridor sasaran nasional. Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kaltara mencatat inflasi tahunan (year on year/yoy) pada Desember 2025 sebesar 2,57 persen, masih berada dalam rentang target inflasi nasional meski meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 1,29 persen.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kalimantan Utara, Hasiando Ginsar Manik menilai capaian tersebut mencerminkan efektivitas sinergi kebijakan antara BI dan pemerintah daerah, khususnya dalam pengendalian harga di wilayah perbatasan.
“Inflasi Kalimantan Utara sepanjang 2025 tetap terjaga sesuai sasaran. Ini merupakan hasil konsistensi kebijakan moneter Bank Indonesia yang diperkuat dengan koordinasi pengendalian inflasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID),” ujar Hasiando.
Secara bulanan (month to month/mtm), inflasi gabungan tiga daerah Indeks Harga Konsumen (IHK) di Kaltara pada Desember 2025 tercatat 0,54 persen. Kenaikan tersebut dipengaruhi meningkatnya aktivitas dan mobilitas masyarakat selama momen Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru.
Salah satu penyumbang utama inflasi bulanan berasal dari kenaikan tarif angkutan udara, seiring lonjakan permintaan perjalanan masyarakat pada masa libur akhir tahun. Meski demikian, tekanan inflasi dari sektor transportasi relatif tertahan berkat kebijakan diskon tarif penerbangan selama periode Nataru.
“Permintaan meningkat, tetapi dampaknya terhadap inflasi masih dapat diredam karena adanya kebijakan penurunan tarif selama libur Natal dan Tahun Baru,” jelasnya.
Selain transportasi, tekanan inflasi juga bersumber dari kenaikan harga bawang merah dan cabai rawit. Meningkatnya konsumsi rumah tangga pada momen HBKN, bersamaan dengan pasokan yang mulai menurun pascapanen, turut mendorong kenaikan harga komoditas pangan tersebut.
Meski demikian, Hasiando menegaskan tekanan inflasi pangan secara umum masih dalam batas terkendali, berkat penguatan pasokan dan kelancaran distribusi antarwilayah.
Dari sisi wilayah, seluruh daerah IHK di Kalimantan Utara mengalami inflasi bulanan. Kabupaten Bulungan (Tanjung Selor) mencatat inflasi tertinggi sebesar 0,67 persen (mtm), disusul Kota Tarakan sebesar 0,60 persen (mtm), dan Kabupaten Nunukan sebesar 0,37 persen (mtm).
Di tengah tekanan tersebut, terdapat sejumlah faktor yang menahan laju inflasi. Penurunan harga angkutan laut akibat kebijakan diskon tarif selama Nataru menjadi salah satu penopang stabilitas harga. Selain itu, melimpahnya pasokan ikan bandeng akibat peningkatan panen serta turunnya harga bayam karena musim panen lokal yang didukung curah hujan kondusif, turut menekan inflasi pangan.
“Kombinasi kebijakan pemerintah dan kondisi pasokan yang baik membantu menjaga inflasi Kaltara tetap stabil hingga akhir tahun,” pungkasnya. (zar/jnr)
Editor : Januriansyah RT