Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Jadi Sorotan, Dinsos Tarakan Ungkap Fakta Penanganan Pengemis Gendong Bayi 7 Bulan

Zakaria RT • Kamis, 15 Januari 2026 | 17:15 WIB
Pendamping Rehabilitasi Sosial Dinsos Tarakan, Yuanita Priskantari
Pendamping Rehabilitasi Sosial Dinsos Tarakan, Yuanita Priskantari

TARAKAN — Adanya pengemis yang membawa anak di Kota Tarakan cukup menjadi perhatian besar masyarakat. Sehingga, Dinas Sosial (Dinsos) Kota Tarakan angkat bicara terkait sosok perempuan berinisial RW yang viral di media sosial beberapa hari terakhir karena hidup mengemis bersama anak-anaknya.

Saat dikonfirmasi, Pendamping Rehabilitasi Sosial Dinsos Tarakan, Yuanita Priskantari menegaskan bahwa RW bukanlah kasus baru, karena telah lama berada dalam penanganan pemerintah.

“Untuk klien kami yang viral beberapa hari lalu itu, sebenarnya sudah kami tangani sejak lama. Bersangkutan sudah kami dampingi sejak tahun 2021. RW memiliki banyak anak dan berada dalam kondisi ekonomi yang sangat terbatas. Sejak awal penanganan, kami telah mengambil langkah-langkah perlindungan terhadap anak-anaknya, termasuk merujuk beberapa di antaranya ke panti sosial," ujarnya, Kamis (15/1).

“Karena bersangkutan memiliki banyak anak dan kondisi ekonominya bisa dikatakan kekurangan, beberapa anaknya kami rujuk masuk ke panti agar kebutuhan dasarnya terpenuhi. Namun, dalam proses pendampingan, kami menghadapi berbagai kendala karena RW ini tidak betah tinggal di panti," sambungnya.

Diungkapkannya, Dinsos Tarakan sempat menempatkan RW beserta anak-anaknya di Panti Dhuafa yang berlokasi di Juata Permai. Bahkan, salah satu anaknya juga sempat difasilitasi untuk mengenyam pendidikan melalui program Sekolah Rakyat.

“Dalam masa penanganan, bersangkutan beberapa kali datang hamil, kemudian melahirkan, dan setelah itu pergi lagi. Saat kami temukan kembali, kondisinya sudah hamil lagi. Tapi yang bersangkutan tidak pernah memberikan penjelasan yang jelas terkait siapa bapak dari anak-anaknya,” ungkap Yuanita.

“Selama kami tangani, sebenarnya bersangkutan dan anak-anaknya sudah kami tempatkan di Panti Dhuafa Juata Permai. Satu anaknya bahkan kami sekolahkan di Sekolah Rakyat,” katanya.

Di panti tersebut, seluruh kebutuhan dasar RW dan anak-anaknya telah dipenuhi, mulai dari makanan, tempat tinggal, hingga kebutuhan bayi dan akses pendidikan. Namun, kondisi tersebut justru tidak membuat RW betah.

“Padahal di panti itu makannya terjamin, kebutuhan bayinya juga terpenuhi, anak-anaknya diberikan pendidikan. Tidak ada lagi yang harus dia pikirkan. Tapi bersangkutan ini tidak tahan hidup normal seperti masyarakat pada umumnya,” tutur Yuanita.

Lanjutnya, karena merasa tidak betah, RW akhirnya meninggalkan panti dan kembali hidup di jalan dengan cara mengemis. Sejak saat itu, Dinsos Tarakan berulang kali melakukan pendekatan persuasif agar RW bersedia kembali ke panti, namun upaya tersebut selalu menemui jalan buntu.

“Kami sudah beberapa kali melakukan strategi membujuk agar dia mau tinggal kembali di panti, tapi tidak berhasil. Bahkan kami sempat bekerja sama dengan Baznas serta Dinas Pemberdayaan Perlindungan Perempuan dan Anak, namun upaya-upaya tersebut juga tidak membuahkan hasil,” jelasnya.

Saat ini, RW diketahui bertahan hidup dengan cara meminta-minta dan hidup berpindah-pindah tempat. Ia kerap mengontrak rumah, tinggal di kos, atau menginap di losmen, tanpa tempat tinggal tetap. “Kami berkali-kali membujuk dia kembali ke panti, apalagi anaknya masih bayi. Tapi dia menolak keras dan tetap memilih hidup dengan caranya sendiri,” ungkap Yuanita.

Ia menerangkan, jika pihaknya tidak bisa memaksa RW untuk tinggal di panti. Berdasarkan penilaian pendamping sosial, RW dinilai dalam kondisi mental yang cukup baik dan mampu berkomunikasi secara normal.

“Mohon maaf, kami juga tidak bisa memaksa ibu ini karena dikhawatirkan dia akan memberontak. Kami menilai yang bersangkutan cukup waras dan bisa berkomunikasi dengan normal,” katanya.

Ia menambahkan, Satpol PP Kota Tarakan juga pernah beberapa kali melakukan penertiban terhadap RW. Namun, setelah ditertibkan, RW kembali lagi ke jalan dan melanjutkan aktivitas mengemis.

Adapun Terkait keberadaan keluarga RW, Yuanita menyebutkan bahwa keluarga sebenarnya ada di Tarakan. Namun, menurut pengakuan RW sendiri, keluarga tersebut sibuk dengan urusan masing-masing.

“Keluarganya di Tarakan ada. Tapi katanya sibuk dengan urusannya masing-masing. Kami juga heran kenapa dia tidak memilih tinggal di rumah keluarganya, tapi jawabannya selalu demikian,” ujarnya.

Diuraikannya, meski berbagai upaya belum membuahkan hasil, namun Dinsos akan terus melakukan pemantauan dan pendekatan secara humanis. Kekhawatiran utama Dinsos saat ini adalah tumbuh kembang anak-anak RW, terutama bayi yang masih sangat membutuhkan lingkungan hidup yang layak.

“Sejauh ini kami terus melakukan monitoring dan terus berupaya membujuk bersangkutan agar mau kembali tinggal di Panti Dhuafa. Kami khawatir pertumbuhan dan perkembangan anak-anaknya terganggu jika terus hidup di jalan dengan pola hidup seperti itu,” pungkasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
#dinsos #Panti #rehabilitasi