TARAKAN – Rendahnya kunjungan masyarakat ke posyandu menjadi tantangan besar dalam upaya pencegahan stunting di Kota Tarakan. Kondisi ini membuat banyak anak terdeteksi saat sudah berada pada fase stunting.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Tarakan Paulina Bura mengatakan, posyandu seharusnya menjadi garda terdepan dalam mencegah stunting sejak dini.
“Kalau kunjungan posyandu itu bisa optimal, sebenarnya stunting bisa dicegah lebih cepat. Tapi yang sering terjadi, anak datang sudah dalam kondisi stunting,” ujar Paulina.
Padahal, Dinas Kesehatan telah melengkapi sebagian besar posyandu dengan alat antropometri terstandar dari Kementerian Kesehatan. Selain itu, seluruh puskesmas di Tarakan juga telah memiliki fasilitas USG untuk pemeriksaan ibu hamil. “Kendala kita bukan di alat atau petugas, tapi di kunjungan masyarakatnya,” jelasnya.
Dinas Kesehatan juga telah menjalankan program jemput bola, namun upaya tersebut belum mampu menjangkau seluruh sasaran. “Kita ada jemput bola, tapi tidak semua bisa kita jangkau. Tidak mungkin terus menerus jemput bola, harus ada kesadaran dari masyarakat,” katanya.
Selain itu, Dinkes juga menjalankan program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita gizi kurang, balita dengan berat badan tidak naik, serta ibu hamil kekurangan energi kronis (KEK). “PMT ini kita berikan setiap hari, termasuk hari libur. Bentuknya makanan kudapan bergizi,” ungkap Paulina.
Menurutnya, penanganan stunting tidak bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan. Diperlukan dukungan lintas sektor untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya posyandu.
“Posyandu itu bukan milik kesehatan saja. Kalau cakupan posyandu bagus, banyak masalah ibu dan anak bisa kita cegah sebelum menjadi stunting,” pungkasnya. (zar/jnr)
Editor : Januriansyah RT