TARAKAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tarakan mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap influenza A atau yang dikenal sebagai “super flu”, meskipun hingga Januari 2026 belum ditemukan kasus baru di wilayah Tarakan.
Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Tarakan Rinny Faulina mengatakan, super flu sebenarnya merupakan influenza A secara medis. Istilah “super” muncul karena gejalanya dinilai lebih berat dibanding influenza biasa.
“Kalau influenza biasa mungkin hanya flu ringan dengan demam sekitar 38 derajat. Ini bisa disertai demam tinggi antara 39 sampai 41 derajat Celsius,” ujar Rinny.
Selain demam tinggi, penderita juga mengalami sakit kepala, nyeri tenggorokan, serta badan terasa ngilu dan sakit. Menurut Rinny, penularan super flu tergolong cepat, terutama pada kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan penderita penyakit penyerta atau komorbid.
“Kelompok dengan komorbid ini hampir sama seperti Covid-19 dulu. Kalau punya penyakit penyerta, biasanya kondisi akan lebih berat,” jelasnya.
Dinkes Tarakan mencatat, kasus super flu di Tarakan sempat ditemukan pada November 2025 sebanyak tiga kasus. Namun seluruh pasien telah dinyatakan sembuh.
Rinny menjelaskan, informasi hasil pemeriksaan laboratorium baru diterima sekitar dua minggu setelah pasien berobat. Hal ini disebabkan proses pengiriman dan pemeriksaan sampel yang harus melalui balai laboratorium rujukan.
“Sampel tidak bisa langsung dikirim satu per satu. Biasanya dikumpulkan dari rumah sakit terlebih dahulu, kemudian dikirim ke balai laboratorium rujukan di Banjarmasin. Di sana juga ada antrean pemeriksaan,” katanya.
Saat hasil laboratorium keluar, lanjut Rinny, kondisi pasien sudah membaik dan tidak memerlukan penanganan lanjutan.
“Semua pasien sudah sembuh,” tegasnya.
Hingga Januari 2026, Dinkes Tarakan memastikan belum ada temuan kasus baru dan belum ada sampel tambahan yang dikirim untuk pemeriksaan. Meski belum ditemukan kasus lanjutan, Dinkes Tarakan tetap meningkatkan kewaspadaan. Seluruh puskesmas diminta lebih sigap jika menemukan pasien dengan keluhan demam tinggi disertai gejala flu berat.
“Kami sudah mengingatkan tenaga kesehatan agar lebih selektif dan teliti saat anamnesis, terutama bila ada demam di atas 39 derajat,” ungkap Rinny.
Ia menilai, banyak masyarakat yang masih menganggap gejala super flu sebagai flu biasa sehingga memilih mengobati sendiri tanpa memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
“Kadang hanya minum air hangat atau istirahat. Kalau imunnya bagus mungkin sembuh sendiri, tapi kalau imunitas sedang turun, gejalanya bisa lebih berat,” katanya.
Kondisi ini berpotensi membuat kasus tidak terdeteksi oleh layanan kesehatan. Sebagai langkah pencegahan, Dinkes Tarakan mengimbau masyarakat kembali menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seperti rajin mencuci tangan, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, serta menggunakan masker di fasilitas kesehatan atau lokasi rawan penularan.
“Kalau ada anggota keluarga yang flu, sebaiknya memakai masker agar tidak menularkan ke yang lain. Dan kalau tidak terlalu perlu, sebaiknya membatasi aktivitas di luar rumah,” imbaunya.
Selain itu, masyarakat dianjurkan menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga, istirahat cukup, serta mengonsumsi suplemen bila diperlukan.
Terkait pencegahan medis, Rinny menyebut vaksin influenza masih bisa dimanfaatkan meskipun varian virus super flu berbeda dengan varian yang terdapat dalam vaksin.
“Vaksin influenza memang variannya seperti H3N2, sementara super flu ini varian baru. Tapi vaksin tersebut tetap bisa digunakan,” jelasnya.
Vaksin influenza umumnya tersedia di fasilitas kesehatan swasta dan dapat diberikan saat seseorang dalam kondisi sehat maupun setelah sembuh dari sakit.
Meski penularannya tergolong cepat, Rinny menegaskan super flu tidak mengarah pada kondisi pandemi seperti Covid-19. “Para pakar menyebut tidak mengarah ke pandemi. Tapi kewaspadaan tetap penting, karena penularannya memang lebih cepat,” pungkasnya. (zar/jnr)
Editor : Januriansyah RT