TARAKAN - Puluhan peternak ayam lokal yang tergabung dalam Koperasi Produsen Peternak Ayam Pedaging (KKPPAP) Tarakan mendatangi kantor DPRD Tarakan pada Senin (5/1) dalam agenda Rapat Dengar Pendapat (RDP) terhadap adanya agen yang membeli dan menjual ayam dengan harga lebih murah.
Saat dikonfirmasi, Ketua KKPPAP Tarakan, Sahak Maruntung Sipahutar menerangkan, kedatangan ia dan puluhan peternak ayam lainnya lantaran adanya agen pembelian ayam nasional yang baru masuk ke Kota Tarakan yang dinilai merusak harga pasaran ayam lokal dengan penawaran perjanjian kontrak jual yang lebih murah. Dikatakannya, Kehadiran agen tersebut mengancam eksistensi pedagang dan agen lainnya yang sudah ada. Sehingga peternak mendesak DPRD agar menekan agen yang masuk untuk menyetarakan harga jual mengikuti harga yang berlaku.
"Kedatangan mereka bertujuan untuk mengadukan keresahan terkait hadirnya perusahaan agen baru yang dinilai menerapkan kebijakan harga kontrak di bawah standar rata-rata lokal. Agen ini adalah PT Mitra Senang Jaya (MSJ) yang kami yakini dijembatani oleh CV PMS (Paguntaka Mitra Sejahtera). Yaitu agen ayam yang sudah bangkrut 6 bulan lalu. Mereka masuk ke Tarakan dan membeli hasil panen kepada plasma (peternak) dengan harga lebih murah," ujarnya.
"Dengan kehadiran agen baru ini, para peternak plasma dan agen lainnya merasa terancam. Perusahaan ini diduga merupakan anak perusahaan dari grup besar nasional yang menjalin kemitraan melalui eks-karyawan perusahaan PMS yang telah bangkrut. Mereka merusak harga pesaingnya untuk menguasai pasar," sambungnya.
Dikatakannya, soal perbedaan harga kontrak yang sangat signifikan antara agen lokal lama dengan agen yang baru masuk yang dimaksud yakni PT MSJ. Lanjutnya, harga yang ditawarkan PT MSJ untuk pembelian ayam lokal perkilogram sebesar Rp 25 ribu sementara harga yang selama ini berlaku antara plasma atau peternak lokal yang ada sebesar Rp 31 ribu.
"Perlu diketahui, di Tarakan ada 3 agen yaitu Melati Jaya, Nagajaya, Mandiri, menerapkan harga kontrak rata-rata Rp 31.000 per kilogram. Sedangkan agen baru PT MSJ, harga kontraknya hanya Rp 25.000 per kilogram. Ada selisih Rp 6 ribu. Dengan harga kontrak yang murah ini, tidak menutup kemungkinan mereka akan melempar ayam ke pasar dengan harga yang jauh lebih rendah, misalnya Rp 26 ribu. Jika itu terjadi, agen kami terpaksa ikut menurunkan harga atau melakukan subsidi besar-besaran agar ayam lokal tetap laku,” terangnya.
Ia menambahkan, jika kondisi ini dibiarkan, peternak lokal terancam kehilangan pendapatan sekitar 30 persen. hingga 70 persen dari margin yang biasa mereka terima. Sehingga kata dia, dalam hal ini tidak hanya mengancam eksistensi kompetitor agen ayam lainnya, melainkan juga mengancam peternak lokal.
"Kami mengkhawatirkan jika agen lainnya tutup, agen baru ini akan melakukan monopoli pasar dari hulu ke hilir perusahaan besar tersebut. Sehingga setelah memonopoli pasar, mereka akan mengatur seharga sesuai keinginan mereka. Bisa jadi nantinya mereka akan menaikan harga lebih mahal dari yang saat ini berlaku," jelasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT