TARAKAN – Angka stunting di Kota Tarakan mengalami kenaikan sepanjang 2025. Berdasarkan data pencatatan Dinas Kesehatan Kota Tarakan, prevalensi stunting meningkat dari 3,8 persen pada 2024 menjadi 4,4 persen hingga Oktober 2025.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tarakan Paulina Bura mengatakan, data tersebut berasal dari Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPGBM) melalui aplikasi Sigizi Kesga.
“Untuk data riil di lapangan, tahun 2024 kita berada di angka 3,8 persen. Sedangkan tahun 2025 sampai Oktober naik menjadi 4,4 persen,” ujarnya.
Sementara itu, data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) terakhir yang digunakan adalah tahun 2024 dengan angka 12,6 persen. Pada 2025, survei tersebut tidak dilaksanakan oleh pemerintah pusat.
Paulina menjelaskan, kenaikan stunting lebih banyak dipicu oleh faktor determinan sensitif atau faktor di luar layanan kesehatan langsung. Faktor paling dominan adalah kebiasaan merokok di lingkungan keluarga.
“Paparan asap rokok di rumah sangat berpengaruh. Anak jadi mudah sakit karena daya tahan tubuhnya menurun. Kalau sering sakit, berat badan bisa turun dan akhirnya berujung stunting,” jelasnya.
Selain rokok, persoalan sanitasi juga menjadi penyumbang utama, khususnya kepemilikan jamban sehat. Sejumlah wilayah pesisir masih ditemukan rumah tangga yang belum memiliki septic tank sesuai standar.
“Di wilayah seperti Amal, Sulumit Pantai, dan Juata Laut, masih ada rumah yang jambannya belum layak,” katanya.
Faktor lain yang turut memengaruhi adalah rendahnya pendidikan ibu serta pernikahan dini yang masih banyak terjadi di kawasan pesisir.
“Usia ibu masih sangat muda, pendidikannya rendah, ini berdampak pada pola asuh dan kesehatan anak,” pungkas Paulina. (zar/jnr)
Editor : Januriansyah RT