TARAKAN - Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Tarakan menanggapi serius kejadian ledakan di SMAN 72 Jakarta. Kasus tersebut diduga terjadi karena korban bullying tidak mendapatkan penanganan yang baik, sehingga ia menjadi pelaku.
Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdik Tarakan, Kamal mengatakan, Di Tarakan, sekolah memiliki Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) yang bertanggung jawab menangani setiap persoalan bullying, sekecil apapun, dengan segera.
"Penanganan diawali dengan edukasi mendalam kepada korban, karena korban yang rentan cenderung menjadi target berulang. Pendekatan ini berbeda dengan kasus di Jakarta yang diduga terjadi karena vakumnya penanganan," ujarnya, Jumat (14/11).
Pencegahan bullying membutuhkan kerja sama dari pihak sekolah, orang tua, dan masyarakat.
Salah satu edukasi yang diberikan adalah mengajarkan anak-anak untuk tidak emosi ketika diejek, misalnya dengan merespons ejekan tentang nama orang tua secara tenang, bertanya balik, atau bahkan memberikan jawaban yang lucu.
"Tujuannya adalah agar pelaku bullying kehilangan kepuasan melihat reaksi emosional dari korbannya," jelasnya.
Kamal menekankan pentingnya pendampingan orang tua terhadap anak, terutama dalam penggunaan media sosial. Lingkungan media sosial menjadi faktor yang perlu diantisipasi, selain lingkungan masyarakat, keluarga, dan sekolah.
"Orang tua diharapkan memberikan pemahaman yang mendalam dan pengawasan, termasuk terhadap konten-konten kekerasan seperti tontonan boxing, agar anak tidak salah menafsirkan atau meniru," pungkasnya.(*nkh).
Editor : Azwar Halim