TARAKAN - Mangrove, salah satu ekosistem pesisir yang paling berharga, tidak hanya berperan dalam menjaga keseimbangan alam, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan terhadap ketahanan pangan dan ekonomi lokal.
Terutama bagi komunitas masyarakat pesisir yang menjadikan mangrove sebagai sumber kehidupan yang tak ternilai.
Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Kaltara, Nur Laila mengatakan, produk olahan mangrove di Kaltara memiliki potensi besar di pasar domestik dikarenakan produk olahan mangrove memiliki beragam jenis, seperti sirup, tepung, keripik, selai, kopi mangrove, pewarna alami, dan anyaman/kerajinan.
Selain itu, produk olahan mangrove dapat menjadi oleh-oleh khas daerah dan olahan pangan niche yang diminati konsumen domestik.
"Produk olahan mangrove punya potensi kuat di pasar domestik, terutama sebagai oleh-oleh khas daerah, camilan/olahan pangan niche (sirup, tepung, keripik, kopi), bahan pewarna alami, kosmetik tradisional, dan kerajinan," ujarnya, Rabu (12/11).
Lanjutnya, Kaltara juga memiliki momentum regional yang mendukung pengembangan produk olahan mangrove, seperti inisiatif, demo produk, dan dorongan pengembangan ekonomi hijau. Dengan demikian, produk olahan mangrove memiliki potensi besar untuk menjadi produk unggulan daerah dan meningkatkan ekonomi lokal.
"Konsumen domestik menyukai produk daerah untuk oleh-oleh, makanan khas, dan produk alami dan ramah lingkungan menjadi peluang di pasar eceran, toko oleh-oleh, marketplace, dan pariwisata," tambahnya.
Dishut berharap produk olahan mangrove di Kaltara berkembang menjadi rantai nilai ekonomi hijau yang kokoh, dimulai dari pengelolaan hutan mangrove secara lestari hingga terbentuknya UMKM tangguh yang mampu memasok pasar domestik maupun nasional.(*nkh/).
Editor : Azwar Halim