Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

BMKG Prediksi Banjir Rob di Tarakan Berlangsung Hingga 10 November Mendatang

Eliazar Simon • Jumat, 7 November 2025 | 20:06 WIB

 

ELIAZAR/RADAR TARAKAN  WASPADA : Banjir ROB diprediksi akan terjadi hingga 10 November mendatang dan warga diminta tetap waspada
ELIAZAR/RADAR TARAKAN WASPADA : Banjir ROB diprediksi akan terjadi hingga 10 November mendatang dan warga diminta tetap waspada

TARAKAN – Warga pesisir Kota Tarakan diminta tetap waspada. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tarakan memprediksi fenomena banjir rob atau banjir pesisir masih akan berlangsung hingga 10 November 2025.

Fenomena tersebut sudah terlihat sejak 5 November lalu, bertepatan dengan fase bulan purnama yang menyebabkan aktivitas pasang air laut meningkat tajam.

Forecaster BMKG Tarakan Ida Bagus Gede Yamuna menjelaskan, banjir rob merupakan fenomena alam yang terjadi akibat kenaikan tinggi muka air laut yang dipengaruhi oleh gaya gravitasi bulan terhadap bumi.

“Ketika posisi bulan sejajar dengan bumi, gaya tarik bulan mempengaruhi aktivitas pasang surut air laut. Itulah yang menyebabkan air laut naik hingga meluap ke pesisir,” jelas Ida Bagus.

Berdasarkan data pasang surut yang dimiliki BMKG Tarakan, banjir rob mulai terjadi sejak 5 November lalu dan diperkirakan akan berlangsung hingga 10 November mendatang.

“Kalau dilihat dari data kami, biasanya banjir rob di Tarakan terjadi ketika tinggi permukaan air laut mencapai sekitar 3,3 meter. Ketika melewati angka itu, peluang banjir rob semakin besar,” terang Ida Bagus.

Ia menjelaskan, puncak pasang pada 5 November terjadi sekitar pukul 18.00 WITA, sementara pada 7 November diperkirakan terjadi sekitar pukul 19.00 WITA. Setelah itu, air laut akan surut secara bertahap dengan penurunan sekitar 0,3 hingga 0,6 meter per jam.

Fenomena pasang air laut ini, lanjutnya, tidak hanya terjadi di Tarakan, tetapi juga di sejumlah wilayah pesisir Indonesia. Hal ini karena seluruh kawasan pesisir dipengaruhi oleh kondisi gravitasi bulan yang sama.

Terkait adanya isu yang mengaitkan banjir rob dengan gempa bumi yang mengguncang Tarakan pada 5 November lalu, BMKG menegaskan kedua fenomena tersebut tidak saling berkaitan.

“Gempa bumi disebabkan oleh aktivitas lempeng di bawah permukaan bumi, sedangkan banjir rob murni akibat gaya gravitasi bulan. Jadi dua peristiwa ini berbeda penyebabnya,” tegas Ida Bagus.

Ida Bagus mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan waspada, terutama bagi warga yang tinggal di wilayah pesisir rendah atau dekat pantai. Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah percaya pada informasi simpang siur yang beredar di media sosial.

“Kami harap masyarakat hanya mengacu pada informasi resmi dari BMKG. Jangan mudah percaya kabar yang belum tentu benar, agar tidak menimbulkan kepanikan,” pungkasnya. (zar)

Editor : Azwar Halim
#tarakan #kaltara #banjir #bmkg