TARAKAN - Setiap tanggal 28 Oktober di seluruh Indonesia diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Bagi Komunitas Tarakan Book Party, Hari Sumpah Pemuda bukan sekadar momen seremonial tahunan yang diperingati dengan upacara dan slogan semangat kebangsaan.
Lebih dari itu, hari bersejarah ini menjadi waktu untuk menampilkan karya dan aksi nyata anak muda Tarakan di berbagai bidang, termasuk dunia literasi.
Pelopor Komunitas Tarakan Book Party, Adinda Rahmadhani menilai, Sumpah Pemuda adalah momentum “show up” bagi generasi muda. Menurutnya, setiap tahun para pemuda selalu hadir dengan berbagai kegiatan, kolaborasi, dan inovasi di berbagai sektor.
"Bagi kami, Sumpah Pemuda menandakan bahwa semangat dan inisiatif pemuda masih hidup. Setiap tahun selalu ada aksi dan kolaborasi baru yang membuktikan bahwa pemuda tidak kehabisan ide," ungkapnya, Selasa (28/10).
Ia juga menilai bahwa semangat Sumpah Pemuda di Kota Tarakan masih sangat terasa. Hal itu tercermin dari banyaknya kegiatan yang mengangkat tema kepemudaan, mulai dari festival, pameran karya, hingga ajang penghargaan bagi pemuda berprestasi.
"Bukan hanya upacara saja yang digelar, tapi juga bentuk apresiasi terhadap pemuda-pemudi Tarakan. Ini bukti bahwa semangat Sumpah Pemuda masih hangat dan nyata," tutur Adinda.
Dalam pandangannya, semangat Sumpah Pemuda memiliki makna yang luas, termasuk dalam ranah literasi. Ia menyebut literasi adalah salah satu wadah utama bagi pemuda untuk menunjukkan eksistensi diri.
"Dunia literasi itu ruang ekspresi yang sangat penting. Di Tarakan sendiri, semakin banyak komunitas literasi yang aktif membangun budaya membaca dan menulis. Ini menunjukkan bahwa semangat belajar dan berkarya masih langgeng," jelasnya.
Tarakan Book Party meyakini bahwa keterlibatan literasi dalam berbagai momentum harus terus diperbanyak. Adinda berharap semakin banyak kegiatan yang memadukan semangat Sumpah Pemuda dengan dunia literasi.
"Literasi sebaiknya tidak hanya diangkat saat Hari Sumpah Pemuda saja. Setiap momentum penting bisa disisipkan kegiatan membaca, menulis, atau diskusi buku, agar kesadaran akan pentingnya literasi tumbuh lebih luas," katanya.
Bagi komunitas ini, literasi bukan hanya tentang membaca dan menulis, tetapi juga tentang membangun jembatan kolaborasi antar pemuda.
Adinda menyebut bahwa literasi dapat menjadi ruang untuk menyalurkan gagasan, menampilkan potensi, sekaligus mengasah kemampuan berpikir kritis.
"Jadikan literasi sebagai ruang untuk show up, berprestasi, dan berkolaborasi. Literasi bisa menjadi jembatan bagi pemuda untuk mengeksplorasi diri dan berdampak di lingkungan sekitar," pesannya.
Melalui semangat ini, Tarakan Book Party berharap generasi muda Tarakan dapat terus menghidupkan nilai-nilai Sumpah Pemuda dalam kehidupan sehari-hari dengan menjadikan literasi sebagai bagian dari gaya hidup.
"Pemuda-pemudi harus mampu membawa perubahan positif bagi masyarakat dan terus menjaga api semangat kebangsaan tetap menyala," pungkas Adinda. (*wld)
Editor : Azwar Halim