Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Pohon di Tengah Kota Semakin Langka, Tarakan Tidak Seteduh Dulu

Wildan Ratar • Senin, 20 Oktober 2025 | 20:29 WIB
WILDAN/RADAR TARAKAN LANGKA: Pepohonan yang semakin jarang terlihat di tengah Kota Tarakan
WILDAN/RADAR TARAKAN LANGKA: Pepohonan yang semakin jarang terlihat di tengah Kota Tarakan

TARAKAN - Kota Tarakan kini kian kehilangan wajah teduhnya. Pohon-pohon besar yang dahulu tumbuh di pinggir jalan dan kawasan pemukiman, perlahan menghilang satu per satu.

Sebagian digantikan oleh bangunan permanen, tempat usaha baru, atau pelebaran jalan yang terus meluas dari tahun ke tahun. Sebenarnya itu hal positif dalam pembangunan, namun tak bisa dipungkiri, efek sampingnya juga tetap terasa.

Dulu, bayangan pepohonan menjadi teman bagi pengendara yang melintas di siang hari. Kini, yang tersisa hanya deretan tiang listrik, baliho dan bangunan-bangunan yang mulai berjejer.

Hawa panas semakin terasa, terutama di kawasan pusat kota dan jalan-jalan utama yang nyaris tanpa rimbun daun, walau sebenarnya perubahan ini bukan hal yang terjadi tiba-tiba.

Urbanisasi cepat di Tarakan telah menggeser cara masyarakat memandang ruang. Pohon tidak lagi dianggap sebagai bagian penting dari kenyamanan kota, melainkan penghalang bagi pembangunan. Pandangan itu membuat keseimbangan lingkungan kian terganggu.

Kota kecil seperti Tarakan sejatinya sangat bergantung pada pepohonan hijau untuk menjaga kualitas udara.

Dengan jumlah kendaraan yang terus meningkat, kehadiran pohon menjadi penyeimbang alami dari polusi udara. Sekarang, rasanya cuaca panas benar-benar terasa dua hingga tiga kali lipat dibandingkan dulu.

Fenomena ini bukan sekadar soal estetika, melainkan soal kualitas hidup. Ketika pohon semakin jarang, suhu udara meningkat, dan kesehatan warga pun bisa saja ikut terdampak.

Bukan hal mengejutkan jika beberapa tahun terakhir, warga Tarakan lebih sering mengeluh soal cuaca panas yang tak kunjung reda, bahkan di pagi hari sekalipun.

Sebagian kawasan baru di Tarakan tampak gersang sejak awal dibangun. Alih-alih menanam kembali, pengembang lebih fokus pada aspek komersial. Padahal, satu atau dua pohon besar di sekitar hunian bisa menjadi pendingin alami yang jauh lebih murah dari pendingin ruangan.

Kondisi ini membuat Tarakan perlahan kehilangan identitas hijaunya. Dahulu, kota ini dikenal sebagai salah satu daerah yang sejuk berkat banyaknya pepohonan di sekitar rumah warga.

Kota yang tumbuh cepat ini mungkin berkembang dalam ekonomi, tapi mundur dalam hal kenyamanan ekologis. Pemerintah memang telah menanam pohon di beberapa titik, namun jumlahnya belum sebanding dengan yang ditebang.

Sementara itu, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya ruang hijau juga belum merata. Banyak warga yang lebih memilih memperluas lahan parkir daripada mempertahankan pohon di halaman.

Jika dibiarkan, tentu semboyan Smart City akan tercoreng karena salah satu poin pilarnya adalah Smart Environment, yaitu menciptakan lingkungan yang bersih dan hijau.

Kini, Tarakan butuh refleksi bersama. Kota ini tidak sekadar butuh bangunan megah dan jalan lebar, tetapi juga teduhnya naungan pohon yang dulu memberi kenyamanan. Sebab, kemajuan kota bukan hanya diukur dari gedung-gedung yang berdiri, tetapi juga dari lingkungan yang teduh, bersih dan sehat. (*wld)

Editor : Azwar Halim
#tarakan #kaltara #pohon #semakin langka