TARAKAN - Menyandang status overload bertahun-tahun membuat Tempat Pemerosesan Akhir (TPA) Hake Babu semakin sesak. Sehingga terus menumpuknya sampah membuat pemerintah beberapa pekan lalu menonaktifkan TPA tersebut.
Hal tersebut dilakukan tidak terlepas karena telah dioperasikannya TPA Juata Kerikil meski belum dapat melayani secara optimal. Namun demikian, baru 3 Minggu sistem tersebut diterapkan menimbulkan persoalan pada implementasinya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tarakan Andry Rawung mengatakan, Pemkot Tarakan sedang melakukan transisi pemindahan penggunaan TPA secara menyeluruh dari TPA Hake Babu ke TPA Juata Kerikil.
Namun demikian, hal tersebut membuat banyaknya sampah yang menumpuk di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recyle (TPS3R), karena tidak terangkut ke TPA Juata Kerikil.
Hal itu lantaran Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) mengeluhkan jauhnya jarak ke TPS Juata Kerikil yang dinilai mengeluarkan cukup banyak Bahan Bakar Minyak (BBM).
“Awalnya TPA Juata Kerikil masih terbatas sarana dan prasarananya, sehingga hanya menerima sampah dari Kecamatan Tarakan Utara. Tetapi kita pelan-pelan mencoba mengalihkan dari TPA Aki Babu ke TPA baru. Namun dalam 3 minggu terakhir ada hambatan, banyak KSM yang selama ini mengelola sampah di TPS3R membuang langsung ke TPA Aki Babu, harus membuang ke Juata Kerikil yang jaraknya dikeluhkan mereka karena jauh,” ujarnya, Selasa (7/10).
"Itu karena sampah yang dari Kecamatan Tarakan Timur, Tarakan Barat, dan Tarakan Tengah harus dibawa ke TPA Baru jalannya harus memutar ke Juata Laut terlebih dulu," jelasnya. (zac)
Editor : Azwar Halim