Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Terkendala Tangani ODGJ, Dinsos Harap Adanya Rumah Sakit Jiwa di Tarakan

Wildan Ratar • Rabu, 10 September 2025 | 17:24 WIB
TERKENDALA: Kepala Bidang Sosial Dinsos Tarakan, Jamaluddin, FOTO:WILDAN/RADAR TARAKAN
TERKENDALA: Kepala Bidang Sosial Dinsos Tarakan, Jamaluddin, FOTO:WILDAN/RADAR TARAKAN

TARAKAN - Dinas Sosial (Dinsos) Kota Tarakan mengaku masih menghadapi berbagai kendala dalam menangani Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

Kepala Bidang Sosial Dinsos Tarakan, Jamaluddin mengungkapkan, salah satu persoalan utama adalah belum adanya Rumah Sakit Jiwa (RSJ) di Kalimantan Utara (Kaltara), termasuk di Kota Tarakan.

Meskipun terdapat fasilitas Ruang Teratai di RSUD dr. H. Jusuf SK, kapasitasnya masih terbatas dan belum mampu memberikan penanganan komprehensif, khususnya bagi ODGJ dengan kondisi berat.

"Ada rumah sakit penunjang, tapi belum maksimal. Sempat ada wacana pembangunan rumah sakit jiwa, namun, sampai saat ini belum juga terbangun di Kaltara,” ujarnya, Rabu (10/9).

Ia menilai, keberadaan RSJ di Kaltara sudah menjadi kebutuhan mendesak, mengingat posisi geografis daerah ini yang berada di wilayah perbatasan, serta jumlah ODGJ yang lumayan banyak.

"Seharusnya kita yang ada di perbatasan sudah punya rumah sakit jiwa seperti daerah-daerah lain. Ini penting agar penanganan ODGJ tidak harus dirujuk keluar provinsi, jumlah ODGJ juga mencapai ratusan jiwa," ungkapnya.

Kendala lain yang turut memperumit situasi adalah faktor keluarga. Menurutnya, ketika kondisi ODGJ mulai membaik atau menunjukkan kesadaran, tak jarang keluarga justru menolak untuk menerima kembali pasien tersebut.

Hal ini menyebabkan proses rehabilitasi sosial tidak dapat berlanjut secara efektif. “Kadang keluarganya tidak mau terima lagi. Padahal ODGJ ini butuh perawatan jangka panjang, termasuk mengonsumsi obat secara rutin,” tambahnya.

Ia menegaskan bahwa keberlangsungan pengobatan merupakan hal krusial bagi pemulihan ODGJ. Tanpa dukungan keluarga, proses penyembuhan dapat terhenti dan berisiko membuat pasien kembali mengalami gangguan.

“Kalau obatnya putus, kondisinya bisa kambuh. Akhirnya mereka tidak bisa kembali hidup normal di tengah masyarakat,” lanjutnya.

Dengan kondisi seperti ini, Dinsos Tarakan mengaku masih terus mencari formula yang tepat untuk menangani persoalan ODGJ secara menyeluruh.

Pihaknya pun berharap pemerintah provinsi maupun pusat dapat memberikan perhatian serius terhadap permasalahan ini, termasuk dengan mempertimbangkan pembangunan Rumah Sakit Jiwa di Kalimantan Utara.

“Kami sangat berharap ke depan ada RSJ di Tarakan agar penanganan ODGJ bisa lebih manusiawi dan berkelanjutan,” pungkasnya. (*wld)

Editor : Azwar Halim
#kaltara #rumah sakit jiwa #dinsos tarakan