TARAKAN – Stabilitas harga di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) tetap terjaga sepanjang Agustus 2025. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kaltara, inflasi gabungan dari tiga kota Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat sebesar 2,24 persen (year on year/yoy), masih berada dalam rentang target inflasi nasional sebesar 2,5 persen ±1 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kaltara, Hasiando Ginsar Manik, menjelaskan bahwa inflasi bulanan (month to month/mtm) juga menunjukkan tren penurunan yang signifikan dibanding bulan sebelumnya. Pada Agustus 2025, inflasi Kaltara tercatat hanya sebesar 0,06 persen (mtm), jauh menurun dari 0,59 persen pada Juli 2025.
“Penurunan ini didorong oleh pasokan bahan pangan yang melimpah, serta turunnya tarif angkutan udara menjelang masuknya maskapai baru pada Oktober nanti,” terang Hasiando.
Ia mengungkapkan bahwa harga komoditas seperti tomat dan cabai rawit mengalami penurunan signifikan. Hal ini disebabkan oleh masuknya fase panen raya di sejumlah daerah penghasil, yang didukung oleh kondisi cuaca yang relatif stabil dan mendukung.
Meski begitu, ada beberapa komoditas yang justru mencatatkan kenaikan harga, antara lain daging ayam ras dan Day Old Chick (DOC). Kenaikan ini dipengaruhi oleh tren harga di tingkat nasional.
Selain itu, kegagalan panen bawang merah di beberapa sentra produksi seperti Jawa dan Sulawesi juga berdampak pada naiknya harga bawang merah di wilayah Kaltara.
“Berakhirnya diskon tarif 50 persen untuk seluruh layanan kapal Pelni per Agustus juga menjadi salah satu faktor pendorong inflasi,” tambah Hasiando.
Secara geografis, inflasi bulanan di tiga kota IHK di Kaltara menunjukkan pola yang bervariasi.
Kabupaten Nunukan mencatat inflasi sebesar 0,22 persen (mtm), dipengaruhi oleh permintaan yang stabil serta dinamika harga beberapa komoditas utama. Sementara itu, Kabupaten Bulungan mencatat inflasi 0,13 persen (mtm).
Menariknya, Kota Tarakan mengalami deflasi sebesar -0,07 persen (mtm), yang berarti terjadi penurunan harga barang dan jasa secara umum di kota ini.
“Perbedaan ini hal yang wajar. Setiap wilayah memiliki karakteristik ekonomi dan logistik yang berbeda-beda,” ujarnya.
Hasiando menegaskan bahwa secara keseluruhan, kondisi inflasi yang terkendali ini merupakan hasil nyata dari sinergi antara Bank Indonesia dan pemerintah daerah.
Kolaborasi ini, menurutnya, sangat penting dalam menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
“Ini adalah bukti nyata bahwa koordinasi dan sinergi yang kuat dapat menghasilkan stabilitas ekonomi yang konkret, terlebih di tengah momentum perayaan HUT ke-80 Kemerdekaan RI,” pungkasnya. (zar)
Editor : Azwar Halim