TARAKAN - Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Tarakan menghadapi tantangan dalam perawatan jaringan listrik yang sudah berusia tua. Kondisi ini memengaruhi upaya optimalisasi Penerangan Jalan Umum (PJU), sehingga Dishub menerapkan dua skema penerangan dalam strateginya.
Dua skema tersebut adalah memanfaatkan jaringan listrik PLN jika tersedia, dan menggunakan PJU Tenaga Surya (PJUTS) untuk area yang tidak terjangkau jaringan listrik.
"Jika jaringan PLN tersedia di sekitar lokasi yang membutuhkan PJU, maka kami pakai itu. Tapi jika jaraknya terlalu jauh atau tidak tersedia sama sekali, maka kami alihkan ke pemasangan PJUTS," ujar Kepala Dishub Tarakan, Ahmady Burhan, Kamis (4/9).
Ia menerangkan, di beberapa wilayah, khususnya daerah pinggiran dan permukiman baru, ketersediaan tiang listrik maupun jaringan PLN masih minim atau bahkan tidak ada sama sekali.
Lebih lanjut, Dishub berencana melakukan pemasangan PJU di berbagai titik rawan lakalantas, seperti di daerah Mamburungan, Tanjung Pasir dan Pantai Amal.
"Beberapa jaringan memang sudah tua, maka dari itu kami sesuaikan dengan kondisi lapangan agar program penerangan jalan tetap berjalan efektif. Seperti di wilayah Pantai Amal yang sedang dalam proses pengadaan KWA Meter," jelasnya.
Ahmady menjelaskan, masing-masing skema penerangan memiliki kelebihan dan kekurangan yang harus disesuaikan dengan lokasi pemasangan agar penerapannya efektif.
"PJU yang dari jaringan PLN lebih stabil dan daya tahan lampunya lebih lama, tapi butuh infrastruktur pendukung seperti tiang dan jaringan listrik yang memadai, seringkali belum tersedia di beberapa lokasi terpencil," ucapnya.
Lanjutnya, dirinya menjelaskan kelebihan PJUTS yang menawarkan fleksibilitas lebih tinggi karena tidak bergantung pada jaringan listrik PLN.
"PJUTS sangat cocok untuk daerah yang belum terjangkau listrik, serta lebih ramah lingkungan. Namun, PJU jenis ini bergantung pada intensitas matahari, dan perawatannya harus lebih sering," terangnya.
Dengan dua skema penerangan tersebut, diharapkan penerangan jalan di Kota Tarakan bisa lebih merata dan tepat sasaran. (*wld)
Editor : Azwar Halim