TARAKAN – Sejak awal 2025, Kota Tarakan mencatat ada 207.815 unit kendaraan (data Bapenda Kaltara) yang menyebabkan jalanan terasa semakin sesak.
Dishub Tarakan menilai, salah satu faktor utama penyebab kemacetan selain meningkatnya jumlah kendaraan, adalah ketimpangan jumlah pengguna kendaraan pribadi dibanding transportasi umum.
Minimnya minat masyarakat menggunakan angkutan umum membuat jalanan dipenuhi motor dan mobil pribadi, sehingga menambah tekanan lalu lintas di kota dengan luas wilayah terbatas ini.
Kepala Bidang Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ) Dishub Tarakan, Mohdi menjelaskan, masyarakat masih cenderung merasa kendaraan pribadi lebih praktis dan fleksibel dibanding harus menunggu transportasi umum.
“Ketimpangan ini jelas terlihat, armada angkutan kota (angkot) maupun bus kota kita tidak sebanding dengan pertumbuhan kendaraan pribadi. Akibatnya, kemacetan jadi pemandangan rutin,” ujarnya, Selasa (26/8).
Mohdi menyebut, peningkatan jumlah kendaraan dalam beberapa tahun terakhir membuat beban jalan semakin berat, sehingga terjadi kemacetan walaupun belum separah di kota-kota besar.
“Kapasitas jalan kita terbatas, sementara pertumbuhan kendaraan terus naik setiap tahun. Ketidakseimbangan ini yang akhirnya menciptakan kemacetan,” ungkapnya.
Untuk saat ini, kecenderungan kemacetan di Kota Tarakan memang masih berkutat di jam-jam sibuk. Namun, mengingat pertumbuhan kendaraan yang pesat tiap tahunnya, bukan tidak mungkin kedepannya Tarakan berpotensi macet sepanjang waktu.
Hal itu mulai terlihat, di mana ruas-ruas tertentu perlahan rawan macet meski bukan pada jam sibuk, terutama di kawasan dengan aktivitas perdagangan dan perkantoran yang padat.
Dishub sendiri mengakui akan kekurangan armada angkutan umum di Tarakan. Selain kuantitas, kualitas armada juga butuh perbaikan, namun belum menjadi prioritas utama.
“Dulu kan angkot banyak, ada ratusan, sekarang hanya sekitar 50 angkot yang aktif di Tarakan,” jelasnya.
Dishub meyakini, persoalan macet bukan lagi hal sepele untuk dibicarakan, karena adanya potensi kemacetan yang semakin parah dalam beberapa tahun kedepan.
“Mungkin beberapa tahun yang lalu masalah macet hanya persoalan kecil di Tarakan, sekarang tidak bisa dianggap sepele. Kita akan terus mengikuti perkembangan lalu lintas,” tutupnya. (*wld)
Editor : Azwar Halim