TARAKAN - Perubahan iklim di Kalimantan Utara (Kaltara) membuat para nelayan kebingungan karena berbeda dengan tahun sebelumnya sehingga berdampak pada hasil tangkapan nelayan tradisional.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tarakan, M. Shulam Khilmi menjelaskan, perubahan iklim memang secara umum angin masih di dominan dari arah selatan tetapi dalam kondisi tertentu ada situasi angin ini berubah arah atau yang disebut angin variabel.
"Sehingga arahnya tidak dominan seperti di Tarakan angin pagi dari selatan malam bisa dari arah utara karena ada fenomena di beberapa wilayah Kaltara," ujarnya, Senin (25/8).
Lanjutnya, dibagian wilayah utara Kalimantan yaitu Filipina yang tekanannya rendah hal ini juga akan mengganggu kenormalan angin yang dikatakan nelayan biasanya.
"Sehingga untuk para nelayan saat ini sudah tidak relevan lagi menggunakan pakem yang diturunkan oleh para terdahulu," jelasnya.
Kemudian untuk wilayah kaltara ada konfergensi belokan angin sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan dan akan berpengaruh pada munculnya potensi angin kencang dan gelombang tinggi.
"Dua hari kedepan akan ada potensi gelombang tinggi di perairan tanjung selor dan Tarakan yang mencapai ketinggian 1,25 meter hingga 2,5 meter," pungkasnya.
BMKG mengimbau untuk para masyarakat pesisir dan nelayan untuk selalu mengikuti informasi dari BMKG terkait perubahan iklim dan pola angin yang terjadi di wilayah perairan Kaltara. (*nkh/).
Editor : Azwar Halim