Tarakan - Di balik tawa dan celoteh lucu Dhuwi saat live jualan, tak banyak yang tahu hidupnya adalah perjalanan panjang penuh luka, air mata, dan keberanian untuk terus bertahan.
Namanya Dhuwi Putri Mega Dhamayanti, lahir di Sentani, Jayapura, 27 Agustus 1997. Kini ia tinggal di Tarakan, menjalani hari-hari sebagai penjual nasi kuning “Begadang” sekaligus pedagang online serabutan. apapun ia jual demi sesuap nasi, demi dua anaknya.
Tahun 2020 jadi titik awal perjuangannya. Ia mulai dari jualan pakaian bekas lewat live streaming Facebook.
Digaji hanya Rp500 ribu untuk ribuan baju, tapi Dhuwi tidak mengeluh. Ia berjualan sambil menggendong anaknya, menyusuri jalan dalam hujan, menjadi kurir sendiri.
Ia pernah hanya bisa memberi anaknya susu kaleng dan berbagi popok menjadi dua antara adik dengan sang kakak. Saat hamil tua, ia pergi melahirkan hanya ditemani sang ibu.
Tak mau terus terpuruk, Dhuwi mencoba jualan sosis bakar, gorengan, hingga cream kecantikan. Usahanya sukses besar. Ia mampu beli emas, HP, dan perlahan hidupnya mulai cerah.
Tapi ujian datang lagi. Cream yang ia jual tiba-tiba jadi target razia. Semua produk disita. Mereka bangkrut perlahan.
Apa yang dulu dibeli dengan susah payah, satu per satu harus dijual kembali untuk bertahan hidup.
Tahun 2023, Dhuwi bangkit. Ia buka usaha nasi kuning Begadang. Ia buat sendiri makanannya, ia promosikan sendiri, ia antar sendiri.
Sambil tetap merintis usaha kecil-kecilan lainnya donat, kue ulang tahun, jualan cemilan. Semua dikerjakan otodidak, semua dilakukan sendirian.
“Banyak orang lihat aku lucu dan ceria di medsos. Tapi sebenarnya aku capek. Sering kali ngerasa sendirian, nggak tahu harus cerita ke siapa,” ujarnya pelan.
Ia pernah nyaris bunuh diri. Dan mau Kabur dari Tarakan. Tapi karena ia sadar: anak-anak adalah alasannya bertahan.
Setiap hari, Dhuwi memikul beban yang tak terlihat. utang yang menumpuk, tekanan rumah tangga, dan rasa lelah yang tak kunjung reda.
Kadang ia harus gali lubang tutup lubang. Tapi ia selalu bangun lagi. Karena bagi Dhuwi, diam bukan pilihan. Anak-anaknya butuh makan. Hidup harus jalan.
“Aku capek, tapi nggak boleh berhenti. Suamiku nggak kuat kerja berat, dan kalau bukan aku yang cari uang, siapa lagi?”
Kini, impian terbesarnya sederhana:
Ingin punya rumah sendiri, ingin membahagiakan anak-anak dan ibunya yang sakit-sakitan.
“Kalau aku bisa bicara ke diriku di masa lalu, aku akan bilang: kuat terus, ya. Jangan patah. Kita belum selesai.”
Pesannya untuk perempuan lain yang berjuang diam-diam:
“Kamu harus bisa berdiri di kakimu sendiri. Jangan terlalu berharap pada siapa pun. Karena ketika kamu jatuh, hanya dirimu sendiri yang bisa bangkit.”
Inilah Dhuwi. Sosok sederhana di balik senyum dan tawa. Ibu, istri, sekaligus pejuang tanpa pangkat. Yang hidupnya adalah bukti bahwa perempuan kuat bukan yang tak pernah jatuh, tapi yang terus bangkit meski berkali-kali dihantam luka. (Eru)
Editor : Azwar Halim