TARAKAN - Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia (RI) baru-baru ini mengumumkan rencana program nikah massal nasional, setelah sukses menggelarnya di wilayah Jabodetabek pada Juni lalu.
Sebanyak 100 pasangan dengan berbagai latar belakang berhasil dinikahkan serentak di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (26/6).
Menanggapi wacana nikah massal nasional, Kepala Kemenag Kota Tarakan, H. Syopyan mengatakan, belum menerima instruksi dari pihak pusat.
"Terkait program nikah massal sampai dengan saat ini kita belum mendapat instruksi apapun, namun wacananya memang sudah ada," katanya, Senin (14/7).
Syopyan menjelaskan, program nikah massal nasional adalah bagian dari ikhtiar Kemenag untuk membantu masyarakat, terkhusus bagi mereka yang terkendala perihal material dalam melaksanakan pernikahan.
"Tentu tujuannya untuk membantu masyarakat yang ingin melangsungkan pernikahan namun terkendala ekonomi," jelasnya.
Selain membantu calon pasangan yang kurang mampu, Syopyan juga menjelaskan program ini bertujuan untuk menghindarkan masyarakat dari pernikahan siri atau pernikahan yang tidak tercatat resmi oleh negara.
Calon peserta yang ingin mendaftar nikah massal nasional sendiri diwacanakan tak perlu membayar biaya apapun, program tersebut rencananya memang gratis untuk menjangkau seluruh masyarakat.
"Kalau berkaca dari yang sudah dilaksanakan di Masjid Istiqlal, seluruh biaya ditanggung oleh kementerian, bahkan make up pengantin juga gratis, untuk wacana yang nasional kita menunggu instruksi pusat, bisa saja ada biaya administratif karena menjangkau daerah-daerah, ya paling tidak mahal juga," terang Syopyan.
Meski belum mendapat instruksi, Kemenag Tarakan mengaku siap untuk melaksanakan program nikah massal nasional di Kota Tarakan sesuai prosedur yang berlaku.
"Tantangannya mungkin di penganggaran, tergantung tempat pelaksanaannya di mana, apakah harus sewa tempat lagi atau tidak, yang pasti kami selalu siap jika menerima instruksi," pungkasnya. (*wld)
Editor : Azwar Halim