TARAKAN – Meski saat ini tren Demam Berdarah (DBD) di Tarakan cenderung stabil, namun pemerintah terus berupaya mencegah meningkatnya kasus di Kota Tarakan.
Mengingat DBD salah satu virus yang cukup rawan yang menjadi momok menakutkan bagi masyarakat di perkotaan.
Saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Tarakan, dr Devi Ika Indriarti M.Kes menerangkan, hingga akhir April 2025 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Tarakan belum mengalami perkembangan.
Tercatat sejak April 2025 hingga awal Mei 2025 belum terjadi perkembangan kasus. Namun demikian, hal tersebut belum menjadi jaminan jika Tarakan terbebas dari DBD.
"Saat ini perkembangan kasus relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya. Tapi stabilnya angka kasus bukan berarti dinyatakan aman, karena penyakit ini tetap menelan korban jiwa. Kalau kita bandingkan dengan tahun 2024, kasusnya segitu-segitu saja, tidak naik, juga tidak turun,” ujarnya, Selasa (10/6).
"Kalau data terakhir, jumlah kasus DBD di Tarakan per April 2025 tercatat sebanyak 35 kasus. Tapi dilaporkan ada korban meninggal dunia akibat DBD pada Februari lalu. Jadi meski kasusnya stagnan DBD tetap menjadi salah satu penyakit mematikan kalau terlambat ditanggani," sambungnya.
Diungkapkannya, untuk laporan rutin Mei masih dalam proses pengumpulan dari Puskesmas, sehingga data tertinggi tahun ini belum bisa dipastikan. Untuk mencegah melonjaknya kasus DBD, Dinkes Tarakan.
terus menjalankan langkah-langkah cepat seperti penyelidikan epidemiologi (PE) pada setiap kasus yang muncul.
Lanjutnya, pemberian edukasi kepada masyarakat juga digencarkan, terutama tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, seperti tumpukan pakaian basah.
“Sampai saat ini Dinkes masih intens melaksanakan penanganan dan pencegahan rutin seperti melakukan fogging dan penyaluran Abate ke masyarakat. Tapi walaupun hasil PE negatif, kami tetap memberikan abate di tempat penampungan air,” urainya. (zac)
Editor : Azwar Halim