TARAKAN – Ketua Federasi Akuatik Indonesia Kalimantan Utara (Kaltara), Dr. Bustan, S.E., M.Si, menegaskan komitmennya untuk menjadikan olahraga renang tidak hanya sebagai cabang prestasi, namun juga budaya dan kebutuhan dasar masyarakat Kaltara.
Hal ini ia sampaikan saat meninjau atlet renang Kaltara yang berlaga di Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Akuatik 2024 yang digelar di Jakarta, pada 29 April hingga 1 Mei mendatang. Terdapat enam atlet yang dikirim seluruhnya berasal dari Kota Tarakan.
Pria yang menjabat sebagai Pj. Sekretaris Provinsi (Sekprov) Kaltara itu menyebutkan, para atlet yang berlaga di Kejurnas tersebut merupakan hasil seleksi provinsi (selekprov) yang dilakukan pihaknya.
“Ini baru permulaan. Hasil seleksi pertama kita masih didominasi oleh Tarakan. Enam atlet yang lolos mewakili Kaltara semuanya dari sini. Tapi ini bukan akhir, justru menjadi pemicu untuk membuka pembinaan lebih luas lagi ke seluruh wilayah,” ungkap Bustan.
Menurutnya dengan keikutsertaan Kaltara di Kejurnas Akuatik bisa menambah jam terbang dan pengalaman para atlet.
Apalagi pihaknya fokus menyiapkan atlet renang Kaltara agar bisa tampil di PON 2028. Bahkan kesempatan seperti ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin, karena bisa menjadi batu loncatan untuk prestasi lebih tinggi.
Salah satu tantangan besar yang dihadapi oleh atlet renang Kaltara, diakui Bustan, adalah keterbatasan fasilitas dan kondisi kolam yang belum memadai.
Ia membandingkan kondisi kolam renang di Tarakan yang cenderung panas dengan kolam standar nasional seperti di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta yang lebih dingin.
“Ini bukan soal air saja. Struktur suhu air itu mempengaruhi stamina dan performa. Di GBK airnya dingin, di Tarakan hangat. Anak-anak kita perlu penyesuaian,” tuturnya.
Karena itu, ia mendorong agar pemerintah kabupaten/kota mulai memikirkan pembangunan fasilitas kolam renang yang layak dan representatif.
“Kita tidak bisa terus bergantung pada alam. Di banyak tempat masih mengandalkan sungai atau laut untuk latihan, tapi sekarang kan banyak buaya. Tidak aman,” jelasnya.
Di Kejurnas tersebut, Bustan mengaku terkesan melihat ada atlet asal Kalimantan yang berprestasi di tingkat nasional.
“Saya sempat ke GBK, lihat anak asal Kalimantan, namanya Angel. Umurnya 22 tahun, masih kuliah, tapi dia peringkat satu di kelas renang bebas. Anaknya luar biasa,” katanya.
Tak hanya soal prestasi, Bustan juga ingin menghidupkan olahraga renang sebagai gaya hidup sehat masyarakat Kaltara. Ia berharap renang tidak hanya dilihat sebagai cabang olahraga kompetisi, tapi juga kebiasaan sehat sehari-hari.
“Saya ingin renang ini jadi budaya. Kita biasakan anak-anak berenang. Bahkan sejak bayi. Kalau bisa ibu-ibu habis lahiran langsung kenalkan anaknya dengan air. Itu bagus,” kata Bustan antusias.
Menurutnya, daerah seperti Kaltara yang banyak dikelilingi perairan justru memiliki urgensi lebih tinggi dalam menjadikan renang sebagai keterampilan dasar.
“Kita ini banyak sungai, laut, dan danau. Aktivitas masyarakat kita juga banyak di perahu, kapal. Jadi renang bukan hanya soal olahraga, tapi soal keselamatan juga,” tambahnya.
Sejak dilantik sebagai Ketua Akuatik Kaltara, Bustan langsung bergerak cepat. Salah satu langkah awalnya adalah menyelenggarakan seleksi daerah dan mengirimkan atlet Kaltara ke Kejurnas.
“Kita akan buat beberapa turnamen lokal. Untuk menyemarakkan kembali olahraga renang. Kita hidupkan lagi turnamen-turnamen, baik di Tarakan, Bulungan, dan kabupaten lainnya yang punya fasilitas,” ungkapnya.
Ia juga membuka peluang bekerja sama dengan instansi lain seperti TNI, Polri, hingga Lantamal, untuk menjaring bibit-bibit potensial yang selama ini mungkin belum terdata secara resmi.
“Banyak atlet TNI, Polri, yang punya potensi. Kita akan review, kita rangkul. Tapi pembinaan tetap harus dimulai dari bawah. Kita siapkan jangka panjangnya,” ujarnya.
Dengan semua upaya yang dilakukan, Bustan berharap olahraga akuatik di Kaltara bisa bangkit dan menjadi lumbung medali emas di ajang nasional mendatang, khususnya PON 2028.
“Dengan dukungan masyarakat, media, dan pemerintah, saya yakin kita bisa berjaya kembali. Renang ini olahraga murah, sehat, dan menyenangkan. Kalau dikelola serius, bisa sangat membanggakan,” pungkasnya. (zar)
Editor : Azwar Halim