TARAKAN - Penanganan masalah sampah di Kota Tarakan masih menggalami sejumlah kendala, salah satunya adalah keterbatasan anggaran dan kesadaran masyarakat yang minim.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) DLH Tarakan, Edhy Pujianto menjelaskan, minimnya anggaran terkait pengelolaan sampah dan terus bertambahnya timbunan sampah, bersamaan dengan pertumbuhan jumlah penduduk yang semakin meningkat, menjadi kendala yang dihadapi dalam pengelolaan sampah di Kota Tarakan.
"Sehingga ada beberapa kawasan yang fasilitas Stasiun peralihan sampah atau SPA itu sudah overload," ujarnya, Kamis (15/5).
Lanjutnya, sehingga hal ini dapat meningkatkan beban kerja petugas pengangkut sampah yang biasanya satu ret kini bisa menjadi dua ret sampah.
"Disatu sisi kita tidak bisa menambah jumlah petugas, jadi hanya mendayagunakan petugas yang ada," terangnya.
Sambungnya, armada yang beroperasi secara standar nasional Indonesia harusnya berusia tujuh tahun, sedangkan mobil armada yang dimiliki sudah lewat dari tujuh tahun.
"Jadi kita hanya melakukan perawatan armada yang ada dengan semaksimal mungkin dan tahun ini kita dapat satu pengadaan mobil dum truk," ungkapnya.
Masih minimnya juga kesadaran masyarakat, masih ada yang membuang sampah tidak sesuai jam yang di sepakati, dan belum semua masyarakat ikut aktif dalam Program Sampah Semesta mandiri.
"Buktinya masih banyak masyarakat di wilayah pesisir, membuang sampah ke laut," pungkasnya.(*nkh/).
Editor : Azwar Halim