TARAKAN - Kesuksesan film animasi Jumbo yang menjadi warna baru di industri film animasi Indonesia ternyata melibatkan salah seorang anak muda asal Kalimantan Utara (Kaltara) bernama Musyafa Adli.
Musyafa lahir 27 tahun lalu di Tanjung Selor, merupakan salah satu dari 400 lebih animator yang terlibat di proses penggarapan film animasi Jumbo keluaran Visinema Studio.
"Saya lahir dan besar di Tanjung Selor sampai SMA, lalu memutuskan kuliah di Telkom University jurusan Design Komunikasi Visual (DKV) Kota Bandung," ujarnya kepada Radar Tarakan, Sabtu (3/5).
Dalam produksi film Jumbo, Musyafa memiliki 3 peran penting, di antaranya Creative Director Visinema Studio Bumper (animasi logo Visinema Studios sebelum film dimulai), 2D Animator (di scene kisah pulau gelembung dan flashback kenangan Pak Kades), juga 2D animator pada pembuatan credit titles di akhir film.
Musyafa mengaku bisa terlibat di proyek film Jumbo karya Ryan Andriandhy tersebut berkat tawaran kolaborasi dari Visinema Studio kepada studio tempatnya bekerja, Aras Design dan Motion.
"Ketika Visinema memulai produksi film Jumbo, mereka mengajak kantor saya berkolaborasi untuk beberapa bagian di dalam film tersebut, begitulah mengapa saya bisa terlibat dalam proyek film Jumbo," paparnya.
Awal mula Musyafa terjun ke dunia animasi adalah karena ketertarikannya dalam berkesenian dan storytelling, Ia mengaku dari kecil sudah mencintai dunia seni yang pada akhirnya mengantarkan dirinya ke hal baru, yakni dunia animasi.
"Sedari SD memang sering membuat karya cerita dari banyak medium yang berbeda, lalu saat kuliah mulai mengenal proses animasi yang membuat saya tertarik, akhirnya lulus kuliah saya coba mendalami dunia animasi dan industrinya, kenalan dengan pelaku-pelaku kreatif di bidang animasi dan berlanjut hingga sekarang," terang Musyafa.
Banyak tantangan yang dilalui Musyafa selama proses penggarapan film Jumbo, mulai dari menyatukan isi kepala Visinema Studio akan apa yang menjadi visi misi di proyek ini, sehingga peran Musyafa dianggap krusial.
"Saya harus memikirkan segala hal dari keseluruhan proses kreatif, dari pra-produksi, produksi hingga pasca produksi, menerjemahkan pandangan Visinema menjadi karya visual merupakan tantangan tersendiri," ungkapnya.
Senada dengan pencapaian fantastis film Jumbo, Musyafa merasa senang sekaligus bangga akan keterlibatannya di proyek tersebut, apalagi menjadi satu-satunya putra asli Kaltara yang berperan penting dalam kesuksesan film Jumbo.
"Sungguh bangga dan menyenangkan rasanya, saya penikmat film animasi dan sangat excited ketika film Jumbo mulai diproduksi, senang bisa terlibat dan bisa bekerja secara kolektif untuk membuat karya animasi yang bagus, bertemu dan berkomunikasi dengan banyak seniman termasuk Mas Ryan Adriandhy selaku Sutradaranya," ucapnya.
Hingga berita ini terbit, film animasi Jumbo telah bertengger di posisi ke tiga sebagai film Indonesia terlaris sepanjang masa dengan 8 juta lebih penonton, menggeser karya film terkenal lainnya seperti Dilan 1990, Pengabdi Setan 2 dan Warkop DKI Reborn.
Musyafa juga berpesan agar anak-anak muda Kaltara yang tertarik di dunia animasi untuk tidak menyerah dan terus belajar bahkan menggarap karya simpel sendiri, hal itu dianggap menjadi modal penting untuk berkarir di dunia animasi.
"Untuk anak muda Kaltara kalau memang suka dunia animasi, jangan patahkan mimpi itu, mulai untuk belajar dan membuat karya, karya itu akan menemukan jalannya sendiri," pungkasnya. (*/wld)
Editor : Azwar Halim