TARAKAN - Masifnya pelaksanaan agenda seremonial sekolah seperti perpisahan, wisuda maupun studi tour yang beberapa tahun terakhir kerap dilaksanakan SD, SMP dan SMA hingga saat ini menimbulkan pro dan kontra di masyarakat.
Meski banyak yang tidak setuju lantaran dianggap membebani orangtua siswa, namun tidak sedikit yang mendukung lantaran dianggap memberikan kesan tersendiri.
Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Tarakan dr Khairul menegaskan jika berbagai agenda seremonial sekolah yang saat ini diperbincangkan merupakan agenda yang tidak wajib.
Sehingga ia mengimbau kepada sekolah agar tidak memaksa semua siswa lantaran dapat membebani orangtua. Menurutnya, agenda seremonial seperti perpisahan seharusnya dilakukan atas kesepakatan dan kemampuan bersama sehingga hal tersebut tidak menyulitkan salah satu pihak.
"Acara perpisahan ini kan tidak wajib, kalau orang tuanya mau melaksanakan silahkan tapi kalau membebani jangan. Sekolah tidak boleh memaksa kalau misalnya ada orang tua siswa keberatan karena ini tidak bersifat wajib. Tidak perpisahan juga tidak masalah karena itu kan bukan rangkaian wajib. Tidak ada orang yang tidak ikut perpisahan tidak dapat ijazah, kecuali dia tidak ikut ujian, karena tidak lulus,"ujarnya, Rabu (30/4).
"Itu kan sejak dulu inisiatif dari sekolah supaya ada kesan lah anak-anak ini sebelum berpisah dengan teman-temannya. Dulu-dulu sudah ada tapi acara perpisahan dulu kan tidak membebani, artinya siswa mengumpulkan uang sesuai kesepakatan bersama kalau misalnya ada yang terbebani, jangan dilakukan," sambungnya.
Diungkapkannya, sebenarnya acara perpisahan sudah ada sejak dulu. Hanya saja, menurutnya konsep perpisahan saat ini lebih mengejar ekspektasi tinggi yang akhirnya membuat kegiatan memerlukan biaya besar. Lanjutnya, berbeda dengan zaman dulu, yang selalu mengedepankan kondisi kemampuan semua pihak.
"Perpisahan kan tidak mesti pesta-pesta di gedung mewah atau makan mewah dengan pakaian tertentu. Bisa dengan berkumpul biasa saja. Dulu perpisahan dilakukan di sekolah saja, tidak sewa gedung, makanan juga ala kadarnya tapi tidak ada masalah semua senang, semua menikmati. Kalau sekarang mungkin kesannya ekspektasinya jadi mungkin lebih mahal sehingga itu yang menimbulkan persoalan, karena kondisi ekonomi setiap orang kan berbeda-beda," jelasnya.
"Kalau dulu jaman saya sekolah, perpisahan kita disuruh bawa makanan masing-masing dan dilaksanakan di sekola saja. Kalau misalnya ada teman tidak bawa makanan kita bagi lah makanan kita, kita makan sama-sama. Jadi tidak ada keluhan-keluhan segala macam seperti sekarang," urainya. (zac)
Editor : Azwar Halim