Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Kyai Tamrin dan Puasa Sepanjang Hayat, Tirakat Seorang Santri yang Jadi Jalan Hidup

Radar Tarakan • Sabtu, 19 April 2025 | 21:59 WIB

 

M.Tamrin Al Hafid
M.Tamrin Al Hafid

Tak banyak yang tahu, di sudut Kalimantan Utara, tepatnya di Kelurahan Pantai Amal, Tarakan, hidup seorang pemuka agama dengan laku spiritual yang sangat langka. Namanya Kyai Muhammad Tamrin Al Hafid.

Agus Dian Zakaria, Radar Tarakan

PRIA berpeci hitam ini bukan hanya pendiri Pondok Pesantren Miftahul Ulum, tapi juga seorang yang menjalani ibadah puasa setiap hari—sejak 1998, hingga hari ini.

“Kalau ditanya sampai kapan, insya Allah sampai ajal menjemput,” ucapnya lirih, tapi mantap.

Kisah Kyai Tamrin bukan sekadar cerita soal kekuatan menahan lapar. Ini adalah perjalanan spiritual seorang anak muda dari Mamburungan yang memulai jejaknya dari bangku SDN 007, kemudian menempuh pendidikan pesantren dari Tarakan hingga Jombang, Mojokerto, Kediri, dan akhirnya Jakarta.

Tahun 1997 menjadi titik balik. Saat belajar di Ponpes Al Anwar, Jombang, ia menjalani puasa Senin-Kamis dan Nabi Idris. Namun nasihat gurunya saat itu mengubah segalanya.

“Kalau ingin mudah dekat dengan Allah, amalkan satu ibadah secara konsisten,” kata sang guru.

Dari situ, Tamrin muda mencari guru yang mengamalkan puasa Dahr. Ia bertemu Kyai Solihin Al Hafid, seorang ulama yang telah berpuasa setiap hari selama 31 tahun.

Dari beliau, Kyai Tamrin mendapat ijazah—bukan dalam bentuk kertas atau piagam, tapi karomah spiritual yang hanya diberikan kepada mereka yang siap secara lahir dan batin.

“Awalnya tidak mudah. Lima tahun pertama tubuh saya tersiksa. Sakit kulit, sariawan, koreng. Tapi saya teruskan. Tubuh ini akhirnya beradaptasi,” kenangnya.

Kini, sudah 27 tahun berlalu. Puasa bukan lagi ibadah musiman, tapi menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya.

Ia hanya berbuka sekali sehari, tanpa sahur berat—cukup segelas air putih. Bahkan di hari-hari ketika Islam melarang puasa, seperti hari raya, ia justru merasa lemas. “Tubuh saya sudah terbiasa puasa. Kalau tidak, malah rasanya aneh,” katanya sambil tersenyum.

Lebih dari itu, Kyai Tamrin juga mengamalkan wudhu sepanjang waktu, tahajud setiap malam, dan khatam Alquran setiap tiga hari.

Semuanya ia lakukan dengan ringan, tanpa mengeluh. Bahkan dalam kesehariannya, ia tetap bertani, berkebun, memelihara ayam, dan membantu pekerjaan rumah.

“Istri saya malah senang. Masak cukup sekali sehari,” candanya, disambut tawa ringan.

Bagi Kyai Tamrin, puasa Dahr bukanlah ajang unjuk ketangguhan, apalagi pencitraan. Ini adalah jalan menuju ridha Allah, jalan panjang seorang santri yang memilih untuk menempuh kehidupan dengan kesederhanaan, kesabaran, dan keyakinan penuh.

Ia tahu, jalan ini berat. Dari lima orang sahabatnya yang juga menerima ijazah puasa Dahr, hanya dia yang bertahan.

“Ada yang hanya sanggup enam bulan, setahun, lalu menyerah. Tidak semua orang bisa menjalaninya," bebernya.

Namun ia percaya, siapa pun bisa menapaki jalan ini—asal dimulai dari kecil. “Puasa Senin-Kamis dulu, lalu tambah Syawal, baru pelan-pelan ke puasa-puasa sunnah lainnya,” sarannya.

Dalam diam, dalam lapar yang menjadi laku, Kyai Tamrin mengajarkan bahwa hidup yang sederhana pun bisa sangat bermakna. Bahwa kekuatan spiritual bukan soal keajaiban, tapi tentang ketekunan yang dijalani setiap hari. Tanpa pamrih. Tanpa sorotan. Lillahita’ala.(***/ana)

Editor : Azwar Halim
#tarakan #kaltara #puasa