TARAKAN - Pengeluaran belanja di bulan Ramadan lebih besar dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Secara logika seharusnya pengeluaran belanja lebih sedikit di bulan Ramadan, karena kebiasaan masyarakat Indonesia makan tiga kali sehari, sedangkan selama Ramadan hanya dua kali yaitu, saat berbuka dan sahur.
Pengamat Ekonomi Dr. Ana Sriekaningsih.,S.E.,S.Th.,M.M, menjelaskan, masyarakat mengkonsumsi komoditas yang sama, maka permintaan komoditas juga akan meningkat. Sehingga menyebabkan lonjakan harga.
"Kebutuhan meningkat, karna dia pengen juga berbuka dengan hal yang berbeda, karna menahan lapar dari pagi sampai sore," ujar Direktur Politeknik Bisnis Kaltara ini, Senin (17/3).
Ia mengatakan, puasa itu bukan hanya sekedar menahan makan dan minum, tetapi kita juga harus menahan hasrat berbelanja secara berlebihan karena itu juga merupakan hikmah di Ramadan.
"Sehingga kita bisa menjadikan itu penghematan, boleh memberikan reward kepada diri sendri tapi seperlunya saja," ungkapnya.
Lanjut Ana, hal ini merupakan kondisi psikologis seseorang, dalam penelitian seseorang yang belanja saat lapar menghabiskan uang 60 persen lebih banyak, dibanding pembeli yang belanja dalam keadaan kenyang.
"Misalkan di rumah ada 4 orang, tentu lebih baik memasak sendiri dirumah, daripada membeli makanan jadi, dan semua itu tergantung diri kita mengatur keuangan," pungkasnya. (*nkh/).
Editor : Azwar Halim