TARAKAN - Meski Kota Tarakan bukanlah daerah penghasil pangan, meski begitu kota berjuluk Bumi Paguntaka ini memiliki petani lokal dengan hasil pertanian berkualitas.
Namun, hasil pertanian petani Tarakan belum dapat bersaing dengan pangan luar Tarakan lantaran minimnya sumber daya manusia (SDM) dan terbatasnya lahan pertanian.
Sehingga hal tersebut membuat Tarakan masih bergantung pada suplai pangan dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya.
Saat dikonfirmasi, Ketua Kelompok Tani (Poktan) Flora dan Fauna wilayah Kelurahan Juata Permai, Darmawan menerangkan, aktivitas pertanian di Kota Tarakan memiliki dinamika tersendiri untuk survive.
Hal itu dilakukan lantaran minimnya sumber daya. Sehingga kata Darmawan petani di Tarakan memiliki kebiasaan unik yakni menanam komoditi dengan melihat potensi di pasar.
"Harus diketahui petani di Tarakan sedikit sekali, makanya petani itu agak milih-milih kegiatan. Misalnya saat ini kita melihat harga cabai dan tomat bakal bagus, menjelang Idul Fitri kami harus menanam itu untuk kebutuhan lebaran. Sekarang jelang puasa, biasanya konsumsi daun bawang tinggi jadi kami persiapkan dengan menanam bawang," ujarnya, Jumat (24/1).
"Tapi apakah potensi harga selalu diikuti siklus bertani petani di Tarakan, tidak juga. Karena Tarakan ini tidak memiliki musim. Artinya kalau mau hujan, hujan terus, mau kemarau kemarau terus, susah diprediksi. Seperti contohnya harga cabai beberapa tahun lalu yang sempat mencapai 100 ribu, seharusnya petani di Tarakan menanam cabai tapi itu tidak bisa kami lakukan karena waktu itu jarang hujan. Sehingga dikhawatirkan cabai yang kita tanam gagal panen atau panennya tidak maksimal," sambungnya. (zac)
Editor : Azwar Halim