TARAKAN - Meski dijadwalkan akan diterapkan pertanggal 1 Januari 2025, namun hingga saat ini nampaknya belum semua daerah telah menjalankan program tersebut.
Hal itu tidak terlepas dari berbagai faktor. Salah satunya adalah persiapan. Kendati demikian, hingga telah berjalan program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih saja menimbulkan pro dan kontra di masyarakat.
Saat dikonfirmasi, Akademisi yang menjabat sebagai Dekan FKIP Universitas Borneo Tarakan (UBT) Dr Suyadi M.Ed menanggapi adanya pro dan kontra terhadap program tersebut, menurutnya dalam hal ini masyarakat perlu memandang hal ini dari perspektif positif.
Dikatakannya, dengan segala kontroversi program tersebut namun hal ini merupakan bentuk upaya pemerintah dalam mempersiapkan Indonesia menuju generasi emas 2045.
"Terkait MBG, sebenarnya kita perlu mengapresiasi niatan baik pemerintah untuk perbaikan gizi anak Indonesia. Juga membantu meringankan beban masyarakat kurang mampu agar semua anak tetap bisa mendapatkan asupan di sekolah. Dengan adanya program ini saya kira kita tidak bisa menilai ini efektif atau tidak, karena belum semua daerah sudah menjalankan,"ujarnya, (8/1/2025).
"Saya kira kita juga belum bisa menuntut terlalu besar karena ini baru mau dijalankan dan sasarannya juga secara jumlah cukup banyak. Kita ini negara besar yang tentu programnya membutuhkan waktu. Ada baiknya kita melihat dulu bagaimana dampak program ini setelah itu baru dievaluasi apa layak dilanjutkan atau tidak,"sambungnya.
Dikatakannya, secara realistis tidak ada program yang sempurna. Kendati demikian, menurutnya sebuah program akan mencapai titik manfaat setelah dijalankan dan melalui berbagai evaluasi.
Menurutnya, untuk menuju Indonesia emas pemerintah perlu mengambil langkah berani atau Indonesia akan terus bergantung pada harapan yang semua tanpa melakukan langkah konkret.
"Saya kira tentu semua program tidak ada yang langsung berjalan sempurna. Semuanya butuh progres menuju kematangan. Terkait usulan MBG lebih baik menyasar pada siswa tidak mampu saja, saya kira ini juga perlu data. Apakah saat ini dinas pendidikan sudah mengklasifikasi siswa yang tidak mampu. Dan bagaimana dengan psikologis anak jika ini hanya diberikan pada siswa yang tidak mampu saja,"terangnya.
"Anak-anak belum dapat memahami siapa yang lebih membutuhkan dalam pemberian. Sehingga kalau MBG hanya menyasar pada siswa tidak mampu di sekolah, ini akan membuat siswa yang dianggap mampu merasa tidak mendapatkan perlakuan yang adil karena mereka tidak mendapatkan makanan seperti temannya. Mereka belum bisa membedakan mana yang mampu dan tidak seperti orang dewasa, sehingga ini berpotensi menimbulkan kecemburuan dan berpotensi menanamkan doktrin diskriminasi pada anak-anak,"lanjutnya.
Adapun terkait usulan sasaran program MBG kepada siswa tidak mampu, menurutnya hal tersebut kurang bijak lantaran hal ini dapat berpotensi memberikan pendidikan negatif kepada siswa.
Menurutnya, dalam segi efisiensi hal ini cukup baik namun dari segi pendidikan justru sasaran pada siswa tidak mampu saja akan menimbulkan kecemburuan pada sebagian siswa yang mampu. Sehingga hal tersebut secara tidak langsung mengajarkan budaya diskriminasi pada siswa.
"Beda dengan beasiswa, beasiswa diberikan secara simbolis dan tidak diserahkan secara langsung. Sehingga itu tidak menimbulkan kecemburuan pada anak. Kalau makanan, itu diberikan langsung dan anak yang tidak dapat menyangka bahwa pihak sekolah pilih kasih. Secara psikologis anak-anak akan menangkap apa yang dia lihat dengan kepolosan,"terangnya.
"Soal kecukupan gizi Kita lihat bagaimana sekolah bisa meramu 10 ribu perporsi itu. Menurut saya, 10 ribu itu memang agak mustahil untuk dapat memenuhi gizi kalau kita belanjakan nasi secara pribadi, tapi kalau untuk membeli dalam jumlah besar, bisa saja Rp 10 ribu itu bisa mendapatkan menu setara Rp 20 ribu. Apalagi makanan itu diolah sendiri, mungkin kemungkinan bisa mendapatkan yang lauk yang lebih. Tapi apakah nanti nilai perporsi itu akan rata ke semua daerah atau tidak, kalau tidak tentu Pemda akan menyesuaikan dengan nilai harga di daerahnya,"pungkasnya. (zac).
Editor : Azwar Halim