TARAKAN – Rawannya kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) hampir terjadi di seluruh Indonesia. Hal bisa saja terjadi karena berbagai faktor, diantaranya persoalan ekonomi, perselisihan, perselingkuhan dan kurangnya edukasi pada pasangan.
Sehingga Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana (DP3AP2KB) mengakui masih tingginya angka KDRT di Kota Tarakan.
Saat dikonfirmasi, Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, DP3AP2KB, Tarakan, Rinny Faulina menerangkan, sejak Januari hingga September 2024 pihaknya menerima laporan 91 kasus KDRT di Kota Tarakan. Mayoritas pelapor adalah perempuan yang notabene menjadi korban dari KDRT.
"Laporan ini kami rangkum sejak 1 Januari sampai Akhir September. Mayoritas penyebab KDRT disebabkan karena faktor ekonomi. Ada juga kekerasan fisik, kalau yang kemarin kasusnya rumahnya di mungkin entah dia mau dicuri barang awalnya, mau dilecehkan tapi karena korbannya keburu berteriak hanya dia cuma mendapatkan kekerasan fisik aja belum sampai ke pelecehan, rata-rata sih KDRT kalau perempuan,” ujarnya, Senin (7/10). (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT