Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Begini Penjelasan BMKG Tarakan Terkait El Nino Tidak Berdampak pada Kaltara

Radar Tarakan • Jumat, 13 September 2024 | 13:25 WIB
AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN PREDIKSI BMKG: Kepala Stasiun Kelas III Juwata Tarakan, M. Sulam Khilmi menunjukkan kondisi iklim di Kaltara.
AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN PREDIKSI BMKG: Kepala Stasiun Kelas III Juwata Tarakan, M. Sulam Khilmi menunjukkan kondisi iklim di Kaltara.

TARAKAN - Terjadinya fenomena el nino di beberapa wilayah di Indonesia, menimbulkan dampak kekeringan yang menganggu produksi pertanian di Indonesia.

Sehingga hal ini menimbulkan kekhawatiran masyarakat terhadap ancaman kestabilan harga pangan yang dikhawatirkan meroket. Belum lagi hal itu turut berdampak pada masalah ketersediaan pangan di pasaran.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kaltara, Muhammad Sulam Khilmi menerangkan, meski di beberapa wilayah di Indonesia mulai terdampak fenomena alam el nino, tidak begitu berdampak pada Kaltara khususnya Kota Tarakan.

Hal ini dikarenakan Kaltara salah satu wilayah di Indonesia yang tidak memiliki jadwal musim.

“Saat ini sebagian wilayah di Indonesia memasuki fase El-Nino, tetapi belum signifikan, masih fase lemah. Tapi meski nanti terjadi peningkatan, maka hal ini tidak akan berdampak secara signifikan di Kaltara. Itu karena Kaltara merupakan wilayah yang tidak memiliki jadwal musim, hal ini tidak begitu berdampak. Kalau daerah di Indonesia yang terdampak el nino adalah Pulau Jawa, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat dan Sumatera. Sedangkan di Kaltara secara umum masih mengalami curah hujan yang cukup tinggi," ujarnya, Kamis (12/9).

"Musim kemarau memang hubungannya dengan el nino atau kekeringan, sedangkan la nina curah hujan meningkat. Definisi kemarau itu dalam 10 hari atau satu dasaria curah hujan kurang dari 50 milimeter, diikuti oleh dua dasarian berikutnya kurang dari 50 milimeter, baru bisa disebut musim kemarau,” sambungnya.

Kota Tarakan tidak bergantung pada jadwal musim, adapun jika terjadi fenomena tidak turun hujan atau terjadi hujan selama berhari, maka hal tersebut terjadi tidak lebih dari 5 hari saja.

Dalam artian setiap fenomena alam yang terjadi lebih satu hari baik terjadi hujan maupun tidak, maka fenomena tersebut hanya dapat bertahan maksimal 5 hari saja.

"Di Tarakan tidak mengalami musim kemarau, dalam tiga hari tidak hujan maka hari keempat dan kelima akan hujan. Dalam catatan BMKG Kaltara, hari tanpa hujan di Tarakan tidak pernah lebih dari 5 hari, hanya saja intensitasnya berbeda. Prakiraan hujan di September adalah kategori sedang, menengah, hingga tinggi. Oktober menengah hingga tinggi. Desember mulai turun di kategori menengah curah hujannya. Di Kaltara curah hujan relatif stabil bisa mencapai 400 milimeter per bulan,” urainya.

Diuraikan, untuk Kaltara terdapat 3 daerah yang memiliki durasi tidak hujannya cukup lama yaitu mencapai sekitar satu bulan, di antaranya pulau Nunukan, Sebatik, dan Tanjung Palas Utara.

Namun dalam catatan BMKG, daerah tersebut juga tidak memiliki fenomena permanen seperti musim. Sehingga, kata dia, fenomena hujan cukup lama tersebut terjadi di waktu tidak menentu.

“Ada juga daerah di Kaltara yang mengalami kemarau cukup lama. 3 daerah ini sudah memasuki puncaknya, karena durasinya tidak panjang, hanya satu bulan. Saat ini sudah berangsur-angsur normal kembali seperti Kaltara pada umumnya, mengalami musim hujan yang cukup. Fenomena itu tentantif tidak bisa diprediksi kapan terjadinya dan karena tidak ada musim," ulasnya. (zac/lim)

Editor : Azwar Halim
#tarakan #kaltara #el nino #bmkg