TARAKAN - Masyarakat Kota Tarakan sempat dihebohkan dengan beredar postingan dari Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terkait Kota Tarakan masuk dalam salah satu wilayah yang berpotensi terjadi tsunami.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III Juwata Tarakan, Muhammad Sulam Khilmi mengatakan, postingan tersebut merupakan hasil dari pemodelan atau skenario simulasi dari BMKG dan beberapa tim ahli apabila terjadi gempa dengan magnitude 7,9 skala ritcher (SR) di wilayah Utara Sulawesi.
"Itu hanya sebagai pemodelan atau skenario simulasi saja, bukan berdasarkan kondisi Tarakan saat ini," katanya.
Ia menjelaskan lebih lanjut, informasi yang diberikan BMKG hanya berbentuk simulasi saja. Dengan begitu maka ada upaya mitigasi yang bisa dilakukan apabila kondisi tersebut berpotensi bisa terjadi.
"Dengan simulasi itu dibuat pemodelan, kalau gempanya segitu wilayah mana saja yang terdampak, salah satunya Tarakan," ucapnya.
Kemudian berdasarkan simulasi tersebut, didapati Kota Tarakan Tarakan masuk ke dalam daftar wilayah yang berpotensi gempa dengan status siaga.
Diketahui, status siaga merupakan level kedua untuk tingkat kewaspadaan. Dari simulasi tersebut, digambarkan bahwa apabila gempa dengan magnitude 7,9 mengundang wilayah utara Sulawesi, maka kemungkinan tsunami yang akan terjadi memiliki ketinggian maksimal 3 meter.
"Maksimal 3 meter dengan waktu ketibaan gelombang maksimal 1 setengah jam. Namun dalam praktiknya jika terjadi nanti kembali lagi ke parameter gempanya, ini masih dihitung lagi. Itu yang disampaikan dalam simulasi tersebut," bebernya.
Diungkapkan Sulam, adapun tujuan dilakukan simulasi tersebut agar ada langkah antisipasi khususnya untuk masyarakat agar siap menghadapi bencana alam seperti tsunami.
Terlebih lagi akhir-akhir ini dari BMKG mengeluarkan informasi bahwa gempa bumi Megathrust dengan kekuatan yang cukup besar berpotensi terjadi beberapa wilayah di Indonesia.
"Kita ingatkan juga bahwa di Tarakan juga ada sesar aktif. Simulasi ini untuk memudahkan, apalagi juga ada waktu terjadinya sehingga ada waktu untuk mengevakuasi masyarakat," tuturnya.
Dari simulasi tersebut bukan juga berbentuk prediksi bahwa akan ada terjadi gempa. Namun dengan adanya informasi itu, masyarakat bisa meningkatkan kewaspadaan.
Apalagi Tarakan pernah diguncang tsunami pada tahun 1923 dengan kekuatan 7,0 SR dan di tahun 2016 dengan 6,1 SR.
"Menurut kajian 7,0 SR, bisa terjadi segitu atau bisa dibawahnya. Kita sampaikan potensi yang paling buruk supaya masyarakat lebih siap," tutupnya. (zar/lim)
Editor : Azwar Halim