TARAKAN - Mitigasi akan dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tarakan terhadap potensi gempa yang terjadi di Kota Tarakan.
BPBD Kota Tarakan juga didapati sejak tahun 2019 lalu sudah melakukan analisis terhadap dampak gempa yang terjadi bisa saja terjadi di Kota Tarakan.
"Kita juga menganalisa terkait potensi tsunami di wilayah pesisir," kata BPBD Kota Tarakan, Yonsep.
Ia menambahkan, dari analisa yang sudah dibuat oleh BPBD Kota Tarakan didapati apabila tsunami terjadi di Kota Tarakan maka diprediksi tingginya mencapai minimal 60 centimeter dan maksimal 200 centimeter atau 2 meter.
Apabila hal itu terjadi, maka dipastikan masyarakat yang berada di pesisir akan mengalami dampaknya.
"Informasi gempa hingga prediksi tsunami saja sudah memberikan dampak sosial ke masyarakat. Seperti masyarakat sudah kuatir dengan Informasi itu," ucapnya.
Ia pun berharap masyarakat harus tetap tenang saat menerima informasi kajian gempa dan tsunami.
Apalagi dengan analisa dan potensi yang diprediksi bisa saja berubah. Makanya pemahaman masyarakat terhadap bencana alam harus ditingkatkan. "Masyarakat juga harus paham tanda-tanda tsunami itu," imbuhnya.
Khusus masyarakat di wilayah pesisir laut, ia berharap masyarakat memiliki pengetahuan lebih terhadap bencana alam khususnya tsunami.
Seperti harus bersiap saat mendapati air pantai yang mendadak surut. Kemudian mendapati bau amis yang berlebihan dan suara gemuruh akibat air laut yang naik kembali.
Saat ini beberapa infrastruktur di Kota Tarakan belum memadai sehingga belum tersedia alat untuk mendeteksi tsunami.
Dengan belum adanya pendeteksi gempa dan tsunami, pihaknya akan lebih mengencarkan sosialisasi sebagai bentuk mitigasi juga.
"Kami tetap mengimbau kepada masyarakat melalui sosialisasi yang sudah disampaikan sebelumnya," tuturnya.
Ia menjelaskan lebih lanjut, di Tarakan terdapat sesar aktif yang dikenal dengan Sesar Tarakan. Masyarakat pun diharapkan mampu memahami makna sesar yang penyebab gempa tektonik di wilayah Tarakan.
"Kalau di Kalimantan kan tidak memiliki risiko besar seperti Pulau Jawa dan Sumatera. Tapi kita harus hati-hati kan," pungkasnya. (zar/lim)
Editor : Azwar Halim