Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Kenal Lebih dekat Uting-Manjan Kota Tarakan; Julian dan Alya,

Radar Tarakan • Senin, 15 Juli 2024 | 15:13 WIB

 

Foto: Laveny Berliany for Radar Tarakan TUGAS BARU: Jul (kanan) dan Alya (kiri) bersama Direktur Radar Tarakan, usai ngobrol santai di Input Coffee, Tarakan, Sabtu (13/7) malam.
Foto: Laveny Berliany for Radar Tarakan TUGAS BARU: Jul (kanan) dan Alya (kiri) bersama Direktur Radar Tarakan, usai ngobrol santai di Input Coffee, Tarakan, Sabtu (13/7) malam.

Banyak yang masih berpikir, jika bicara pariwisata, maka yang terasosiasi adalah destinasi alam ataupun wahana hiburan. Padahal, apapun yang berkenaan dengan potensi kunjungan, merupakan nilai jual untuk sektor ini.

Kamis, 20 Juni lalu, Tarakan menobatkan Juliantono dan Alya Venisya Berliani sebagai Uting dan Manjan 2024. Sepasang muda-mudi yang kini mengemban misi membawa citra baik Bumi Paguntaka agar lebih dikenal dunia. Khususnya penggiat pariwisata.

Sang Uting, Juliantono mengakui kalau masih banyak yang mengira duta wisata hanya sebatas kontestasi penobatan semalam. Padahal, saat itu, tugas sebenarnya baru saja dimulai.

“Ada juga salah kaprah kalau hanya saya dan Alya saja yang bertugas. Padahal kami semua grandfinalis mengemban visi dan misi bersama untuk mengembangkan pariwisata Kota Tarakan,” ujar pemuda yang akrab disapa Jul ini.

Tak cuma di situ, dia mengatakan kalau mindset kebanyakan orang bahwa duta wisata hanya akan bertugas sebagai atau penerima tamu pada acara-acara pemerintahan.

“Yang kesel lagi, nggak sedikit yang bilang kalau anak-anak duta itu cuma modal penampilan aja,” ucap putra dari pasangan alm Muntalib dan Mujiati ini.

Padahal, kata Jul, untuk dinobatkan sebagai Uting-Manjan bersama Alya, mereka harus menguasai banyak wawasan. Dari kebangsaan, sosial, budaya, dan tentunya mampu menguasai informasi seputar potensi pariwisata.

Senada, Alya selaku Manjan juga mengamini pandangan sempit masyarakat tentang definisi pariwisata itu sendiri. Tapi dia bersyukur, seiring waktu, pemahaman itu mulai berubah.

“Kalau dulu ya, mungkin orang ngomong wisata itu ya cuma pantai, air terjun, hutan wisata. Padahal, pusat kuliner, hiburan, tempat nongkrong, kafe-kafe, itu justru nilai jual utama buat Tarakan,” ujar dara kelahiran Bandung, 22 Juli 2007 itu.

Itu tak lepas dari posisi Tarakan sebagai sentral untuk Kalimantan Utara. Meskipun bukan sebagai ibu kota provinsi. Sehingga, segala hal terkait jasa penunjang, adalah jualan utama kota ini.

“Apalagi kita tahu, sebagian besar penduduk Kaltara itu di Tarakan. Dan tidak semua daerah di Kaltara ini fasilitasnya yang selengkap Tarakan,” terang putri dari pasangan Muhammad Syawal dan Laveny Berliany itu.

Poin yang dimaksud Alya adalah, fasilitas akomodasi dan akses transportasi. Menurut dia, Tarakan sebagai pintu keluar dan masuk utama di Kaltara, punya segudang potensi karena dilalui ratusan hingga ribuan orang setiap harinya.

“Bahkan mereka tidak cuma lewat. Ada yang sengaja extend satu-dua hari untuk cari hiburan di sini. Dan bukan cuma Kaltara loh. Destinasi seperti Kepulauan Derawan atau Malaysia sekalipun, itu juga banyak yang lewat Tarakan,” tutur gadis penyuka musik dan tari ini.

Baik Julian maupun Alya, sama-sama mengakui kalau segudang PR sudah menanti tugas mereka bersama duta wisata lainnya. Terutama dalam hal mewariskan pemahaman tentang sejarah dan budaya kepada generasi muda.

“Kita tahu Tarakan ini masyarakatnya beragam, jadi sangat kaya budaya. Jadi yang harus dikenalkan juga banyak. Beda dengan daerah lain di Kaltara,” kata Jul.

Begitu pula dengan wisata sejarah. Tarakan, seperti diketahui, merupakan pintu masuk pasukan Jepang ke Indonesia saat zaman perang silam. Sejarah itu, menurut mereka berdua, adalah value yang tidak dimiliki daerah lain.

“Untungnya di Tarakan sudah ada museum yang sangat bagus. Informasi tentang sejarah kota ini bisa diakses di sana. Makanya ini Alya sekalian mengajak masyarakat untuk berkunjung, baik secara langsung maupun virtual,” kata sang Manjan.

Tidak hanya museum, Jul menambahkan, kalau masyarakat juga harus banyak menjelajahi potensi kota ini. Dari destinasi kuliner hingga event budaya, agar pengalaman tersebut dapat menjadi bahan promosi kepada kerabat dari luar Tarakan.

“Terutama anak muda ya. Jadi supaya kita bisa menceritakan atau mempromosikan, kitanya sendiri harus sudah pernah mencoba dulu, lanjut Jul.

Terakhir, Alya menyebut kalau cara untuk mempromosikan kota sudah banyak. Termasuk lewat platform media sosial.

“Jadi jangan mager untuk bikin konten soal pariwisata kota ini. Di manapun, Instagram, TikTok, atau lainnya. Algoritma sekarang memungkinkan konten siapapun bisa ditonton banyak orang. Sayang, kalau tidak dimaksimalkan,” tutup Alya. (*)

Editor : Azwar Halim
#tarakan #kaltara