TARAKAN - Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kalimantan Utara (Kaltara) kembali mengingatkan dan mengimbau kepada seluruh pelaku perikanan berhati-hati saat beraktivitas di perairan yang terdapat ranjau. Berdasarkan data yang dimiliki DKP Kaltara, saat ini di perairan Kota Tarakan masih banyak ranjau yang tersebar.
Adapun titik ranjau sudah dipetakan dan paling banyak ditemukan di wilayah perairan Pantai Amal. Sementara untuk wilayah perairan Kaltara lainnya, belum diindikasikan terdapat ranjau.
Kepala DKP Kaltara, Rukhi Syayahdin mengatakan, adapun ranjau yang tersebar di perairan Kota Tarakan merupakan ranjau sisa perang dunia ke dua. “Kita sudah berkoordinasi dengan Lantamal XIII Tarakan terhadap pemetaan titik-titik ranjau di perairan Tarakan. Makanya di-warning tidak boleh sembarangan beraktivitas di perairan itu,” ungkapnya.
Ia menambahkan, khusus jalur pelayaran rencananya akan dibersihkan ranjau yang tersisa. Dengan begitu, apabila jalur pelayaran dibentuk di perairan Kota Tarakan maka akan aman untuk keselamatan. Bersama Lantamal XIII Tarakan, pihaknya beberapa waktu lalu sudah melakukan pembersihan terhadap ranjau-ranjau yang masih aktif sebanyak 6 titik di perairan Tarakan.
“Pada saat pembersihan memang betul ranjaunya itu meledak. Jadi hal ini yang kita kuatirkan ke pelaku perikanan,” bebernya.
Untuk itu, setiap himbauan yang dikeluarkan oleh pihaknya harus menjadi perhatian bagi pelaku usaha perikanan. Terutama bagi pembudidaya rumput laut. Sebab, pada saat melakukan aktivitas pemasangan pondasi dilakukan di perairan dengan kedalaman tertentu.
Terkait pembersihan ranjau yang ada di perairan Tarakan, diakui belum bisa diselesaikan dalam waktu dekat. Namun pihaknya sudah mengajukan permohonan ke pemerintah pusat. “Karena membersihkan ranjau bulan biaya yang kecil,” imbuhnya.
Nantinya untuk zona pemanfaatan ruang laut juga telah ditentukan, tidak akan diberikan rekomendasi pemanfaatan ruang laut jika perairan tersebut terindikasi ranjau. “Selama ini akan terus kita sosialisasikan kepada masyarakat,” pungkasnya. (zar/lim)
Editor : Azwar Halim