Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Sosok Mustagfirin, Eks Teroris Kelompok Dr. Azhari (Bagian-1)

Radar Tarakan • Selasa, 19 Maret 2024 | 12:44 WIB
BERKISAH MASA KELAM: Sosok Mustagfirin, eks teroris kelompok Dr. Azhari dan Nordin M Top. FOTO: AGUS DIAN ZAKARIA/RAFAR TARAKAN
BERKISAH MASA KELAM: Sosok Mustagfirin, eks teroris kelompok Dr. Azhari dan Nordin M Top. FOTO: AGUS DIAN ZAKARIA/RAFAR TARAKAN

 

“Tidak Ada Tempat dan Hari yang Benar-Benar Aman”

Setiap orang mungkin memiliki masa kelam dalam hidupnya. Tak terkecuali Mustagfirin alias Jek seorang pria kelahiran Kudus 5 Oktober 1982. Mustagfirin merupakan sosok eks terorisme kelompok Dr. Azhari dan Nordin M Top yang merupakan kelompok paling dicari-cari di era 2000-an Indonesia lantaran beberapa aksi teror.

EKSKLUSIF  

AGUS DIAN ZAKARIA / RADAR TARAKAN

PERISTIWA bom Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton, bom Kadubes Australia di Jakarta, Bom Bali 2 dan serangkaian aksi bom lainnya merupakan aksi yang dilakukan kelompok Dr. Azhari dan Nordin M Top. Mustagfirin (42) alias Jek merupakan satu di antara anggota kelompok tersebut.

Ditemui di Tarakan, ia menceritakan jika pengalaman menjadi teroris adalah peristiwa terkelam dalam hidupnya dan ia tidak ingin generasi mendatang bernasib seperti dirinya yang terjebak pada pemikiran ekstrim dan menyeretnya ke dalam lembah hitam terorisme di Tanah Air. Mustagfirin meyakini tidak ada seorang pun yang berniat maupun bercita-cita menjadi teroris, begitu pun dirinya. Namun bacaan dan tontonan yang ia konsumsi dan lingkungan pertemanan menghantarkannya menjadi seorang ekstrimis.

"Awalnya sejak tahun 1999 itu senang menonton  video atau film dokumenter tentang konflik agama di Ambon, Poso, Moro, dan konflik di Timur Tengah dan lainnya. Saya banyak membaca buku-buku atau perkembangan berita yang mengangkat penindasan terhadap umat Islam yang dilakukan negara-negara barat. Akhirnya timbul simpati saya terhadap mujahid sekaligus kejengkelan terhadap non muslim khususnya negara barat yang selalu menindas Islam. Pemikiran itu membawa saya mempelajari lebih banyak tentang mujahid dan itu menjadi cikal-bakal saya bergabung bersama kelompok Dr. Azhari dan Nordin M Top," ujarnya, Minggu (17/3).

"Aktivitas mengonsumsi tontonan, bacaan tentang konflik yang berkaitan dengan agama, itu juga didukung dengan pergaulan saya. Ada dua orang teman saya yang terafiliasi dengan kelompok Nordin M Top yaitu Jabir dan Reno kami satu sekolah, di salah satu pesantren di Jepara. Saya bersahabat akrab dengan 2 orang teman di pesantren tempat saya menimbah ilmu. Kami selalu menjalankan aktivitas bersama, naik gunung sama-sama, camping, main bola, jalan bersama. Tanpa saya ketahui waktu itu, mereka waktu sekolah sudah terafiliasi dengan kelompok Nordin M Top. Naik gunung sama-sama, camping, main bola, jalan bersama," sambungnya.

Waktu terus berjalan, dan peristiwa ledakan Kantor Duta Besar (Kadubes) Australia di tahun 2004 menjadi titik awal dirinya terseret dalam jaringan hitam terorisme. Usai peristiwa peledakan bom di Kedubes Australia nama Jabir dan Reno, sahabat Mustagfirin disebut-sebut sebagai pemuda yang menjadi bagian dari anggota jaringan teroris yang bertanggungjawab pada peristiwa tersebut.

Sehingga, setelah masuk daftar perburuan pemerintah, Jabir dan Reno keluar dari Pondok Pesantren dan kabur. Namun tidak untuk Mustagfirin yang saat ini belum tergabung menjadi bagian dari kelompok terorisme. Kendati demikian, atas peristiwa ledakan tersebut ia telah mengetahui jika 2 sahabatnya tersebut merupakan bagian dari kelompok terorisme di Indonesia.


Kendati demikian, persahabatan Mustagfirin alias Jek bersama 2 sahabatnya yang terafiliasi dengan jaringan kelompok teror Wahid di Indonesia, membuat mendapat pandangan negatif dari teman pesantren dan akhirnya ia diyakini merupakan bagian dari kelompok teror meski sebenarnya ia kala itu belum tergabung. Di ponpes Jek sehari-sehari terus dicurigai dan terus mendapat cerita negatif dari teman-temannya ia merasa mendapatkan sanksi sosial. Tak tahan dengan kondisi itu Mustagfirin akhirnya memutuskan keluar dari pesantren dan mencari kedua sahabatnya tersebut.

"Saya tidak tahan mendapat perlakuan teman-teman saya di ponpes, saya terus dicurigai sebagai teroris. Daripada saya terus dicurigai, saya berpikir bagus sekalian saya menjadi teroris. Akhirnya saya membulatkan tekad keluar dari ponpes dan mencari si Reno dan Jabir. Setelah 4 bulan kemudian saya bisa bertemu Reno dan Jabir di Solo dan mereka mempertemukan saya dengan Nordin M Top yang kala itu tidak sembarang orang dapat berkomunikasi langsung dengan beliau," urainya.

"Jadi kelompok Nordin M Top waktu itu memang fokus mencari anggota dari kalangan pemuda khusunya yang menimbah ilmu agama. Pada saat ini Nordin M Top mengatakan Reno dan Jabir banyak bercerita kepadanya tentang saya, sehingga dia sangat yakin saya bisa bergabung bersama mereka. Singkat cerita setelah mengobrol saya langsung memutuskan siap berbaiat bersama kelompok Nordin M Top. Akhirnya saya pulang ke rumah saya membakar semua foto-foto saya dan apapun yang memungkinkan orang melacak identitas saya nantinya," katanya.

Setelah mantap memutuskan bergabung dengan kelompok Nordin M Top, barulah kala itu ia bertemu dan mengenal sosok Dr. Azhari yang kalah itu disebut-sebut sebagai murid kesayangan Osama bin Laden yang merupakan pimpinan kelompok teroris Al-Qaeda di Timur Tengah. Pasca bergabung, ia cukup banyak mendengar kehebatan sosok Dr. Azhari yang dijuluki sebagai "manusia penghancur" lantaran menjadi kunci dari aktivitas kelompok teror Nordin M Top. Diketahui Kelompok Teror Nordin M Top merupakan kelompok yang terafiliasi oleh Al-Qaeda lantaran beberapa petingginya mendapatkan pelatihan militer langsung dari Al Qaedah.

"Setelah itu saya mendapat tugas sebagai fa'i (mencari dana lewat perampokan), pengawal sosok Jabir (menjaga DPO), transporter (pengantar dan penjemput bahan pengeboman). Saya harus bisa menjalankan tugas ini dengan risiko tertangkap yang cukup besar. Waktu itu kepala Jabir dihargai Rp 500 juta fotonya bersama Reno sudah dipasang di mana-mana, mungkin ada yang pernah ingat daftar gambar DPO teroris yang dipasang di tempat umum tahun 2004. Di situ ada foto Reno dan Jabir, tugas saya untuk menjaga si Jabir ini," ucapnya.

"Prinsip kami, tidak ada tempat dan hari yang benar-benar aman, kami harus waspada kapan dan di mana saja. Jadi kami harus berpindah-pindah paling cepat 3 bulan paling lama 6 bulan sekali harus mencari kontrakan baru. Di sisi lain saya dan rekan juga harus merampok toko orang kafir (non muslim) untuk mencari biaya pengemboman dan biaya hidup kami," sambungnya.

Ia membantah, jika kelompok teror Nordin M Top mendapatkan dukungan dana dari Al-Qaeda. Ia menguraikan sepanjang pengetahuannya, kelompok Nordin M Top menerapkan sistem fa'i untuk bertahan dan mendanai aktivitas berpindah-pindah tempat. Ia meyakini jika sebagian besar kelompok teror di Indonesia menggunakan cara yang sama. Diketahui fa'i merupakan harta rampasan perang yang diperoleh dari musuh tanpa atau melalui peperangan. kelompok teror Nordin M Top sendiri meyakini fa'i ialah merupakan cara yang halal untuk memenuhi operasional dalam perjuangan. Mengingat kala itu, mereka merasa sedang berperang melawan orang-orang non-muslim.

"Dalam melakukan aktivitas fa'i kami lebih dulu mencari tahu pemilik toko itu, kalau pemiliknya muslim kami tidak boleh merampoknya. Kami merampok toko kafir (non-muslim) misalnya konter HP, peralatan rumah tangga, toko emas bahkan bank non syariah. Kami lakukan itu di Semarang, Kendal, Solo, Boyolali, Wonosobo Temanggung, di mana tempat pelarian kami berada. Tujuan dan niat kami Fa'i itu murni untuk keperluan perjuangan (terorisme) bukan untuk uang lain-lain,"katanya.

Setelah melakukan petualangan melakukan aksi terornya, berakhir setelah ia dan 2 rekannya digrebek tim Walet Hitam dari detasemen khussus (Densus) 88 pada Maret 2006 di sebuah kostan. Kedua rekannya yakni Jabir dan Abdul Hadi harus merengang nyawa usai tertembak oleh peluru tajam Densus 88. Hujanan peluru sempat membuat ia meyakini juga bernasib sama dengan kedua rekannya tersebut. Nampaknya Tuhan memiliki rencana lain lantaran masih membiarkannya hidup dan bertaubat.

Pria yang saat ini berprofesi sebagai petani mengenang, di tengah hujaman peluru dari berbagai sudut, ia hanya bertahan dalam sebuah bangunan indekos kecil yang terkepung polisi. Ia sempat terpikir untuk mengakhiri hidupnya di tengah gempuran polisi, namun ia mendengar suatu bisikan di telinganya yang melarangnya untuk bunuh diri. Meski sempat terkena peluru pada tangan dan punggungnya, namun ia masih hidup dan akhirnya ditangkap Tim Walet Densus 88. Alhasil ia digelandang ke Rutan LP Kedung Panel. Setelah menghabiskan waktu 1,5 tahun ia akhirnya dipindahkan ke Lapas Nusakambangan menghabiskan 6,5 tahun masa hukumannya.

"Saya pikir saya sudah mati, saat pengerebekan kami dihujani peluru densus karena kami melakukan perlawanan. Terjadi baku tembak dan akhirnya 2 teman saya tewas di tempat. Saya juga terkena serpihan peluru yang mengenai tangan dan belakang (punggung) saya. Saya saat itu terjatuh dan sudah tidak bisa lagi melawan. Tempat kami dihujani peluru kiri, kanan, depan, belakang bahkan dari atas menggunakan helikopter. Polisi mungkin mengira kami semua sudah mati, setelah diperiksa saya masih hidup dan akhirnya saya dibawa," urainya.

"Saya waktu itu sudah pasrah saja, karena kecil sekali kemungkinan bertahan hidup di tengah situasi itu. Tapi Allah mungkin punya rencana lain, memberikan saya kesempatan hidup dan akhirnya saya bisa bertaubat setelah menjalani hukuman. Saya mendapatkan hukuman 12 tahun tapi dipotong berbagai remisi jadi saya menjalani 8 tahun saja. Saya bebas di akhir tahun 2013 dan sekarang saya menjalani hidup sebagai petani dan mengajar ngaji. Saya tinggal di Kabupaten Tana Tidung bersama istri dan anak dan membuka lembaran hidup baru di sini (Kaltara)," pungkasnya. (***/bersambung)

Editor : Azwar Halim
#tarakan #kaltara #nasional