Setiap orang mungkin memiliki masa kelam dalam hidupnya. Tak terkecuali Mustagfirin alias Jek seorang pria kelahiran Kudus 5 Oktober 1982. Mustagfirin merupakan sosok eks terorisme kelompok Dr. Azhari dan Nordin M Top yang merupakan kelompok paling dicari-cari di era 2000-an Indonesia lantaran beberapa aksi teror. Berikut kehidupannya saat ini.
Agus Dian Zakaria / Radar Tarakan
“TIDAK ada orang yang terlahir sebagai teroris tetapi semua orang bisa menjadi teroris,” itulah sepenggal kalimat Mustagfirin (42) kepada ratusan siswa-siswi kala dirinya menjadi pembicara dalam sebuah agenda dialog kebangsaan dilaksanakan di Tarakan.
Setiap orang memiliki masa lalu yang menghantarkannya menuju hari ini. Masa lalu merupakan perjalan hidup yang tidak bisa diubah namun dapat diperbaiki menjadi lebih baik. Mungkin kalimat ini yang di pas untuk menggambarkan perjalanan hidup Mustagfirin yang merupakan salah satu pentolan kelompok teroris eks Nordin M Top dan Dr. Azhari yang tergabung di dalam kelompok Jamaah Islamiyah (JI) yang terafiliasi dengan kelompok teror di Timur Tengah yakni Al-Qaeda.
Pasca bebas, kini Mustagfirin menghabiskan waktunya bersama keluarga di desa Tidung Pale Kecamatan Sesayap, Tana Tidung, Kalimantan Utara (Kaltara). Kini keseharian Ayah dari 2 anak ini Mustagfirin disibukkan dengan mengurus kebun miliknya dan mengajar ngaji guna menyalurkan ilmu agamanya. Selain itu, ia juga kerap diundang menjadi pembicara pada isu terorisme di Indonesia. Sebagai eks teroris, ia selalu menekankan kepada generasi muda akan pentingnya memperdalam ilmu pengetahuan dalam mencegah paparan radikalisme di Indonesia.
Mengingat generasi muda belum memiliki pemikiran yang matang dan mudah terpengaruh sehingga kerap menjadi sasaran empuk marketing kelompok ekstrimis untuk meregenerasi kelompoknya.
Ia mengakui sewaktu dirinya belum menjadi bagian dari kelompok teror, ia cukup senang meng-update bacaan dan berita tentang konflik yang berhubungan dengan agama seperti Ambon, Poso, konflik Moro di Filipina bahkan perang Chech-nya dan Rusia. Selain itu ia pun gemar mengikuti konfliknya di Timur Tengah antara lain konflik di Irak, Afganistan dan konflik Kasmir yang ia yakini masih berhubungan dengan agama. Mustagfirin muda kala itu belum dapat berpikiran matang dan akhirnya muda hanyut pada kebencian dari mengonsumsi sajian internet, media massa dan buku kala itu. Di sisi lain ia menaruh simpati besar kepada mujahid-mujahid di belahan dunia yang berdiri gagah dalam membela agama.
“Cikal bakal pemikiran radikal saya dari apa yang saya konsumsi baik dari internet, buku atau media massa yang saya tonton waktu itu. Padahal waktu itu, mengakses internet masih susah. Setelah itu timbul kejengkelan saya pada kaum tertentu. Di sisi lain, saya kagum dengan pejuang Islam baik di Indonesia atau pun di luar negeri. Tapi saya tidak punya pikiran sama sekali menjadi ekstrimis hanya sebatas kagum saja,” ujarnya, Senin (17/3).
“Seiring waktu berjalan, atas beberapa persoalan yang saya hadapi saya pun bergabung ke dalam satu kelompok teror yang kemudian hari menjadi kelompok teror yang paling dicari negara. Meski sejak awal saya tidak punya pikiran apalagi niat menjadi teroris, ini terjadi karena peristiwa perjalanan hidup,” sambungnya.
Meski tidak memungkiri selera tontonan dan bacaan yang ia gemari menjadi bibit radikal, namun terdapat sesuatu besar yang menjadi titik balik dirinya bergabung pada kelompok teror, yakni perundungan atau bullying dari teman-teman sekolahnya. Perundungan yang kerap ia alami berupa bentuk pengucilan lantaran dianggap bagian dari kelompok teror, membuat ia muak dan akhirnya mengaminkan tuduhan tersebut. Bahkan, perundungan itu membuatnya berhenti melanjutkan sekolah yang akhirnya menghantarkan dirinya kembali bertemu 2 orang sahabatnya yang merupakan bagian dari kelompok teror.
“Setelah teman saya menjadi DPO pengeboman Kadubes Australia, saya mendapat bully-an luar biasa dari sekolah. Saya dikucilkan, saya diolok-olok, sampai sempat dipanggil sama ustaz pondok diinterogasi kebenaran isu yang beredar di ponpes. Setelah itu, saya minta izin pamit dari pondok (berhenti). Karena jengkel, saya sempat berdoa semoga saya bisa dipertemukan dengan Nordin M Top. Setelah 4 bulan saya bertemu teman saya dan teman-teman saya mempertemukan saya bersama Nordin M Top,” katanya.
Dari perjalanan itulah, sehingga tidak henti-hentinya mengingatkan bahwa perundungan salah satu perlakuan berbahaya kepada orang lain apalagi di kalangan generasi muda. Perundungan yang kerap dianggap sederhana bisa saja berdampak besar pada hidup korban. Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya berdoa yang baik agar jika doa tersebut dikabulkan maka akan berdampak baik bagi diri sendiri. Menurutnya, ucapan adalah doa yang bisa saja terjadi setelah kita mengucapkannya.
“Setelah peristiwa yang saya alami hingga hari ini saya belajar banyak bahwa mungkin hal kecil yang dianggap sepele bisa berdampak besar kepada orang lain. Memang ada banyak faktor yang membuat orang dapat menjadi teroris diantarnya konsumsi media, kurangnya ilmu, faktor ekonomi, broken home, belajar pada orang yang salah, dan mungkin bisa saja perundungan,” tukasnya.
Pria berambut gondrong tersebut tak henti-hentinya mengingatkan upaya sederhana dalam mencegah paparan radikalisme yakni dengan membentengi diri dengan ilmu agama, berhati-hati dalam bermedsos, tidak mencari perbedaan melainkan mencari persamaan, selalu berjemaah (berkelompok) dalam mengerjakan sesuatu, selalu berhubungan dengan keluarga, dan selalu berdoa yang baik.
“Saya kira hal sederhana itu bisa berdampak besar untuk mencegah paparan radikalisme ke setiap orang. Pentingnya melakukan sesuatu bersama, karena kelompok teror yang mencari rekrutan biasanya cenderung mendekati seorang saat menyendiri. Dengan begitu, dia akan muda memasukan doktrin atau dogmanya dalam obrolan.
Kalau berkelompok itu agak sulit didekati untuk menyampaikan sesuatu. karena kelompok teror ini sadar betul menjelaskan sesuatu kepada lebih dari 1 orang, maka hal itu akan sulit diterima oleh target,” bebernya.
“Ibarat seperti singa berburu, dia akan berlari disamping kelompok zebra, begitu ada satu zebra yang keluar dari rombongan, maka satu ekor yang akan difokuskan oleh singa untuk diterkam,” urainya.
“Kelompok teroris tidak dapat dilihat dari penampilan, mereka cenderung random. Biasa saja, bahkan ada yang berpakaian modis gaya barat dan berbicara meyakinkan. Setelah mengobrol baru kita bisa tebak arahnya ke mana. Kalau yang kita lihat di TV selama ini itu hanya pimpinannya saja, gaya bersorban, berjenggot, celana tergantung, gaya agamis lah, tapi untuk yang di lapangan belum tentu seperti itu. Sebenarnya, tidak ada suatu ciri fisik yang bisa menandakan teroris itu sendiri,” jelasnya. (zac/lim)
Editor : Azwar Halim