TARAKAN - Belum meratanya fasilitas pendidikan di Kota Tarakan, membuat sebagian besar anak sulit bisa menimbah ilmu di sekolah negeri khususnya Sekolah Menengah Atas (SMA) sehingga setiap tahun masih banyak anak yang tertolak saat mendaftar di sekolah negeri. Hal itu lantaran sistem penerimaan menggunakan sistem zonasi yang secara langsung merugikan masyarakat yang berdomisili di wilayah yang jauh dari sekolah.
Kepada media Anggota Komisi IV DPRD Kaltara Supaad Hadianto menerangkan, saat ini upaya usulan pembangunan SMA negeri 5 Kota Tarakan terus berjalan. Dikatakannya, pembangunan SMA 5 wajib dilakukan mengingat DPRD Kaltara telah menyisihkan 20 persen APBD untuk pendidikan khususnya untuk realisasi penambahan sekolah baru.
"Progres pembangunan SMA 5 ini terus berjalan, tidak ada alasan untuk tidak dilakukan. Karena untuk anggaran pendidikan itu 20 persen dari APBD. Berkenaan dengan rencana pembangunan SMA Negeri 5 Tarakan, dari pusat itu sebenarnya sudah menyiapkan dana melalui DAK sebesar Rp 12 Miliar pada tahun 2023. Tapi untuk DAK supaya bisa masuk ke dalam pemerintah provinsi punya syarat, salah satu syaratnya adalah lahan,"ujarnya, Senin (26/2).
Dikatakannya, saat ini kendala usulan pembangunan SMA 5 ialah pada persoalan lahan. Sementara usulan pembangunan sekolah diprioritaskan di Kelurahan Karang Anyar lantaran padatnya penduduk dan belum ada fasilitas SMA Negeri.
Ia mengatkan, pihaknya telah mengusulkan kepada Pemkot Tarakan agar dapat menghibahkan lahannya untuk digunakan sebagai lokasi pembangunan SMA Negeri 5 Tarakan. Sehingga kata dia, dalam hal ini diperlukan kolaborasi Pemkot Tarakan dan Pemprov Kaltara.
"Awal Desember tahun lalu komisi 4 sudah ketemu sama pemerintah Kota Tarakan yang pada saat itu diwakilkan oleh wakil Walikota kemudian yang hadir kepala bidang aset. Kemudian kepala dinas pendidikan serta Kabag Hukum. Mudah-mudahan, sebelum 1 Maret nanti pak Wali bisa mengeluarkan atau membuat surat hibah untuk lokasinya di Karang Anyar,"terangnya.
Baca Juga: Camat Krayan Klaim Tiap Hari Pasien Dirujuk ke Tarakan
Sementara itu, Wakil Walikota Tarakan Effendy Djuprianto menjelaskan, pihaknya tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan mengingat pembangunan gedung sekolah merupakan fasilitas yang digunakan dalam jangka waktu panjang. Oleh sebab itu pihaknya masih mempertimbangkan menyoal plus-minus keamanan dan kenyamanan lokasi.
"Lahan di Jalan Bhayangkara pasir putih salah satu opsi lokasi dibangunnya sekolah. Tapi kita tentu melihat berbagai aspeknya dulu misalnya potensi lokasinya, apakah mudah dijangkau, aman dari bencana misalnya tanah longsor, dan apakah tidak berdekatan dengan perusahaan atau hal yang bisa menganggu aktivitas belajar-mengajar. Jadi ada beberapa lokasi alternatif yang dipertimbangkan. Kira-kira lokasi mana yang baik dibangun fasilitas pendidikan,"katanya.
“Kalau dari segi akses di pasir putih itu sangat strategis lokasinya tidak jauh dari kota di Kelurahan Karang Anyar yang belum ada SMA Negeri. Tapi di lokasi itu berdekatan dengan bukit sepertinya cukup rawan longsor. Sementara konsentrasi pembangunan saat ini mengarah ke Tarakan Utara dan Tarakan Timur, jadi ada opsi juga pembangunan di lakukan di 2 kecamatan ini,"katanya.
Baca Juga: Delapan Embung Berpotensi Dibangun di Tarakan
“Di timur juga ada lahan sekitar 2 hektar, tapi kita perkirakan pertumbuhan penduduk di wilayah itu untuk beberapa tahun ke depan. Termasuk PAUD, SD, dan SMP. Tarakan ini lahannya cukup terbatas jadi agak susah kalau kita paksakan 1 kelurahan ada 1 SMA Negeri. Lahan kadang ada, cuma tidak semua yang cocok dibangun sekolah masti ada pertimbangan keamanan dan kenyamanan belajar juga,"pungkasnya. (zac/ana).
Editor : Azwar Halim