Kantor Pencarian dan Pertolongan Tarakan, Syahril mengatakan, korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia kurang lebih 1,71 kilometer (km) dari LKP (last known position). “Korban ditemukan di belakang rumah warga dalam kondisi terlentang,” ujarnya.
Ia menambahkan, lokasi tempat korban ditemukan sudah dilakukan penelusuran oleh tim SAR di hari pertama pencarian. Namun pihaknya terkendala dengan kondisi air yang keruh. Diduga jenazah korban saat itu berada di bawah permukaan air. “Jadi kalau anak-anak itu di hari kedua baru naik (permukaan air). Pas juga di hari kedua, korban ditemukan,” bebernya.
Tim SAR yang melakukan pencarian tidak menemukan kendala lain, selain air yang keruh di pencarian hari pertama. Terhadap kejadian tersebut, pihaknya mengimbau orang tua, agar selalu memperhatikan anak-anak yang sedang bermain. Apalagi saat hujan deras.
“Kalau hujan deras begitu, aliran parit itu kencang arusnya. Ini juga menjadi pengalaman khususnya di Tarakan, lebih banyak mengawasi anak-anak yang bermain di pinggiran sungai atau parit,” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, korban diduga terbawa arus air di salah satu parit yang ada di Gang Bhakti RT 8, Kelurahan Karang Anyar, Tarakan Barat sekira pukul 12.00 Wita, Senin (11/12). Di waktu tersebut saat itu Kota Tarakan sedang diguyur hujan deras.
Kejadian bermula saat hujan deras dan diduga korban bermain dekat parit. Tim SAR gabungan memastikan debit air di parit tersebut cukup banyak dan diserta arus air yang deras saat hujan melanda Kota Tarakan. (zar/lim) Editor : Azwar Halim